Selamat Datang

Assalamu'alaikum, wr wb.
Silahkan melihat, mempelajari atau mengunduh isi materi artikel dalam blog ini, juga sampaikan tabayyun demi kebaikan bersama, dan jangan lupa do'a buat pemilik blog ini. Semoga bermanfaat, Wassalam.
Tampilkan postingan dengan label Psikologi dalam Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi dalam Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2011

Bias EMOsi dan PERasaAN


Bias EMOsi
dan PERasaAN

Segala kecenderungan, motivasi, emosi dan perasaan manusia akan memberikan pengaruh kepada pemikirannya dan membuatnya terjebak pada kesalahan-kesalahan parsialistik. Beberapa studi eksperimen moderen dalam bidang psikologi telah mengungkapkan terjadinya kesalahan berfikir sebagai akibat bias emosi dan perasaan.
            Salah satu eksperimen tersebut menyodorkan beberapa bukti silogistik pada sejumlah mahasiswa. Mereka diminta untuk menjelaskan suatu konklusi yang dianggap logis dari dua premis dalam silogisme. Separuh bukti silogisme ini berhubungan dengan berbagai persoalan hidup yang biasa, sedangkan separuhnya lagi berhubungan dengan persoalan-persoalan yang biasanya memengaruhi emosi. Kesimpulan eksperimen tersebut antara lain membuktikan bahwa semua mahasiswa terjebak dalam sejumlah kesalahan berkaitan dengan bukti-bukti yang mengaruhi emosi. Kesalahan itu lebih banyak daripada kesalahan yang mereka buat pada bukti-bukti lain yang biasa dan tidak memengaruhi emosi. Kesimpulan eksperimen tersebut menjelaskan bahwa kondisi emosional dan perasaan kita berpengaruh terhadap pemikiran kita serta cenderung menimbulkan bias dan jebakan kesalahan dalam membuat keputusan.
            Al Qur’an telah mengisyaratkan pengaruh hawa nafsu terhadap manusia serta penyimpangan berfikir yang ditimbulkan dalam menentukan sikap yang benar. Akibatnya, ia menjadi tersesat dan tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan keburukan, serta petunjuk dan kesesatan.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿028:050﴾
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ ﴿038:026﴾

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا ۚ …﴿004:135﴾
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿045:023﴾

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى ﴿053:023﴾

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ ﴿030:029﴾
Tetapi orang-orang yang lalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.


Sesungguhnya, mengikuti hawa nafsu serta terpengaruh oleh kecenderungan psikologis dan keadaan emosional membuat manusia bersikap bias dalam pemikiran dan keputusan-keputusan yang dibuatnya. Keadaan inilah yang menimbulkan kesalahan-kesalahan berfikir. Oleh karena itu, penting bagi seorang pemikir, agar terbimbing kepada kebenaran, untuk membebaskan pengaruh kecenderungan, emosi, dan fanatismenya yang membelenggu dan menghalangi pemikirannya untuk sampai kepada kebenaran.

Kamis, 20 Oktober 2011

PENGARUH MOTIVASI DAN NILAI TERHADAP PERHATIAN DAN PERSEPSI

PENGARUH MOTIVASI DAN NILAI TERHADAP PERHATIAN DAN PERSEPSI
Ilustrasi

Motivasi dan nilai-nilai individu akan mempengaruhi perhatian dan persepsinya. Kenyataan ini telah ditunjukkan Al-Qur'an pada banyak tempat ketika menerangkan keimanan dapat membuat kaum mukmin siap dan penuh perhatian untuk menyimak ayat-ayat Al-Qur'an yang akan diturunkan, lalu merekapun memahaminya dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang akurat.
Sebaliknya, ayat-ayat yang sama tidak memberikan pengaruh yang sama kepada orang-orang yang musyrik. Pendengaran, persepsi dan pemahaman mereka dalam keadaan lalai. Berikut ini adalah beberapa contoh yang dikatakan Al-Qur'an dalam menggambarkan keadaan lalai yang disebabkan kemusyrikan dan ketakberimanan kepada Allah SWT. Hal inilah yang menjadikan indra orang-orang musyrik tidak bekerja melaksanakan fungsinya.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ ﴿007:179﴾
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”.
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ ﴿041:044﴾
“Dan jika Kami jadikan Al Qur'an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?". Apakah (patut Al Qur'an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh".

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ ﴿047:023﴾
“Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”

أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ أَوْ تَهْدِي الْعُمْيَ وَمَنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ﴿043:040﴾
Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ .صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ ﴿002:018﴾-  ﴿002:017﴾
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ ۗ مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ﴿006:039﴾
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barang siapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿045:023﴾
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ. وَمَا أَنْتَ بِهَادِي الْعُمْيِ عَنْ ضَلَالَتِهِمْ ۖ إِنْ تُسْمِعُ إِلَّا مَنْ يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ. ﴿027:081﴾- ﴿027:080﴾
Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorang pun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا… ﴿035:008﴾
Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik,?
أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ﴿047:014﴾
Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?

Beberapa penelitian psikoanalisis membuktikan bahwa manusia cenderung enggan memahami sesuatu yang membuatnya resah dan gelisah serta hal-hal yang bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya. Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang musyrik Quraisy tidak senang dengan agama baru yang dibawa Rasulullah SAW. sebab penyebaran agama baru tersebut menjadikan mereka tidak memiliki kesiapan psikologis untuk menyimak Al-Qur’an dengan perenungan dan pemahaman. Selain itu, kebencian tersebut juga membuat mereka tidak memiliki kesiapan akal untuk memahami makna-makna Al Qur’an serta untuk  membenarkan kebenaran  yang dibawanya.

Sabtu, 20 Agustus 2011

LANGKAH-LANGKAH BERFIKIR DALAM MENGATASI MASALAH

Dalam kehidupan manusia akan ditemui banyak masalah yang perlu diatasi. Setiap pertanyaan yang ditujukan manusia kepada dirinya dan ia tidak mengetahui jawabannya dipandang sebagai masalah. Masalah itu timbul manakala manusia mempunyai tujuan tertentu yang ingin diwujudkannya, tetapi ia tidak mengetahui cara yang dapat ditempuh untuk menggapai tujuan itu. Atau manakala manusia menghadapi berbagai kendala yang menghalangi pencapaian tujuann itu.
Pada saat manusia memikirkan pemecahan suatu masalah yang dihadapinya, ia akan menyelidiki beberapa langkah tertentu. Hal inilah yang menjadi objek penelitian dalam analisis para psikolog. Kita dapat meringkas langkah-langkah berfikir dalam mengatasi masalah sebagai berikut.
  1. Merasakan adanya masalah
Betrfikir dimulai ketika manusia merasa ada masalah yang berkaitan dengan dirinya. Manusia akan merasakan sebuah motivasi kuat yang mendorongnya untuk mengatasi masalah tersebut untuk mencapai tujuan yang ingin direalisasikannya. Merasakan adanya masalah adalah langkah awal dalam proses berfikir.
  1. Mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan objek masalah
Ketika merasakan ada masalah, seseorang akan memeriksa objek masalah dari berbagai aspek supaya bisa difahami dengan baik. Ia  akan mengumpulkan semua informasi dan data yang berkaitan dengan masalah itu. Ia juga akan memeriksa semua informasi dan data itu untuk mengetahui tingkat kesesuaiannya atau ketidaksesuaiannya dengan objek masalah. Informasi dan data yang sesuai akan dipakai, sedangkan yang tidak sesuai akan dijauhkan. Semua informasi dan data yang sesuai dengan objek masalah itu akan membantu, memperjelas, memahami, dan membatasi masalah-masalah dengan akurat. Hal ini dipersiapkan untuk membuat hipotesis-hipotesis dalam memecahkan masalah itu.
  1. Membuat hipotesis
Pada saat mengumpulkan berbagai informasi dan data yang berhubungan dengan objek permasalahan, terbetiklah di dalam benak seseorang beberapa kemungkinan pemecahan masalah atau beberapa hipotesis. Hipotesis adalah pemecahan yang diusulkan untuk mengatasi masalah.
  1. Menguji hipotesis
Tatkala orang menyusun hipotesis untuk mengatasi suatu masalah, ia akan menguji dan mempertanyakan hipotesis tersebut sesuai dengan informasi dan data yang ada. Ini dimaksudkan untuk mempertegas kesesuaian dan kecocokannya dalam penyelesaian masalah. Adakalanya hipotesis yang dibuatnya tidak cocok dan tidak sesuai dengan beberapa informasi dan kenyataan tentang objek masalah. Jika demikian, ia akan menyingkirkan hipotesis tersebut. Sesudah itu, ia akan menyusun hipotesis baru seraya menguji dan mempertanyakannya, sebagaimana yang dilakukannya pada hipotesis pertama. Terkadang hipotesis tersebut juga disingkirkan. Proses ini terus berlanjut sampai ia menemukan hipotesis yang dapat diterima serta sesuai dengan informasi dan kenyataan objek masalah.  Selain itu, tentunya sesuai juga untuk  memecahkan masalah tersebut.
  1. Memverifikasi kebenaran hipotesis
Setelah menyingkirkan hipotesis yang tidak sesuai dan memperoleh hipotesis yang sesuai untuk memecahkan masalah seseorang akan menghimpun data-data lainnya akanmengadakan observasi atau eksperimen untuk meyakinkan hipotesis tersebut.
Demikianlah langkah-langkah yang umumnya dijalani pada saat memecahkan masalah.
Al-Qur’an membantu kita dengan memberikan contoh yang jelas perihal langkah-langkah yang mesti dijalani dalam proses berfikir untuk memecahkan berbagai masalah. Contoh tersebut dapat kita temukan pada kisah Ibrahim A.S. dan metode yang ditempuhnya dalam berfikir untuk sampai pada pengetahuan tentang Tuhan Yang Mahaagung lagi Mahakuasa yang telah menciptakan alam semesta.
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ
74
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ
75
Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ
76
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
77
Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
78
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
79
(Q.S. Al-An’am [6]: 74-79)
Sesungguhnya, Ibrahim telah merasakan kebatilan penyembahan berhala yang biasa dilakukan kaumnya sebab mereka sendiri yang membuat patung-patung tersebut. Jadi, bagaimana mungkin manusia menyembah sesuatu yang dibuat oleh kedua tangannya?
Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? (Q.S. Ash-Shaffat [37]:95)
قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ
Berhala-berhala tersebut juga tidak mempunyai daya dan kekuatan karena itu tidak mungkin memiliki sifat ketuhanan. Sebab, Tuhan itu Mahakuat, Mahakuasa, Mahamengontrol alam semesta, Mahapemberi kenikmatan, dan Maha Pembagi rizki.
Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?” (Q.S. Al-Anbiya’[21]: 66).
قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا
يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلا يَضُرُّكُمْ
Apa yang dirasakan Ibrahim A.S.  sehubungan dengan kebatilan penyembahan berhala dan ketakpatutan berhala memiliki sifat-sifat Ketuhanan itu telah menimbulkan permasalahan di dalam dirinya. Permasalahan tersebut telah mendesak Ibrahim dan menguasai pikirannya. Permasalahn tersebut “Siapakah Tuhan alam semesta ini?”
Ketika Ibrahim A.S. merasakan permasalahn tersebut, ia merasakan motivasi yang kuat yang mendorongnya untuk berfikir tentang hal tersebut. Tujuannya adalah agar ia sampai kepada makrifat tentang Tuhan dan Pencipta alam semesta. Fitahrah Ibrahim yang bening, ruhnya yang suci, dan akalnya yang jernih telah membantu timbulnya motivasi tersebut dalam dirinya. Semua itu berkat hidayah dan taufik dari Allah Swt.
Sesudah itu, Ibrahim beranjak ke tahap observasi serta pengumpulan informasi dan data. Mulailah Ibrahim mengamati fenomena-fenomena alam yang beragam di langit dan di bumi untuk dijadikan petunjuk sehingga sampai pada pengenalan Tuhan. Lalu, Ibrahim pun memperhatikan bintang-bintang, bulan, matahari, serta berbagai fenomena alam lainnya, baik yang ada di langit maupun di bumi. Hal ini dapat difahami dari firman Allah Swt :
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. (Q.S.IAl-An’am[6]:75)
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ
Pada tahapan observasi dan pengumpulan informasi tentang fenomena-fenomena alam yangberaneka itu, Ibrahim menyususn beberapa hipotesis. Ketika malam mulai gelap, dan Ibrahim melihat bintang berkelip-kelip di langit yang gelap, ia pun membuat sebuah hipotesis yang menyatakan bahwa bintang itulah Tuhan. Namun setelah bintang itu lenyap dan tak tampak lagi, Ibrahim pun mengabaikan hipotesis  tersebut. Diabaikan, karena hipotesis tersebut tidak sesuai. Alasannya, keberadaan Tuhan itu mestinya tetap dan tidak terkena perubahan. Selain itu, Tuhan juga selamanya mesti ada dan tidak lenyap.
Tatkala Ibrahim melihat bulan muncul di tengah-tengah kegelapan, ia pun membuat sebuah hipotesis lain yang mengarah pada bulan sebagai Tuhan. Namun, ketika dilihatnya bulan pun lenyap, Ibrahim pun mengabaikan hipotesis tersebut karena ketidaksesuaiannya dengan sifat-sifat ketuhanan.
Lalu, ketika Ibrahim melihat matahari terbit memenuhi dunia dengan cahaya kehangatan, dan ukurannya lebih besar disbanding bintang-bintang lainnya, ia pun membuat hipotesis lain. Ibrahim mengatakan bahwa matahari itulah Tuhan. Akan tetapi, saat Ibrahim melihat matahari terbenam, ia pun menjauhkan hipotesis itu lantaran ketidaksesuaiannya dengan sifat-sifat ketuhanan.
Setelah menyingkirkan semua hipotesis itu lantaran ketaksesuaiannya, akhirnya Ibrahimpun membuat satu hipotesis yang mengarahkannya pada Tuhan yang telah menciptakan semua bintang, langit, bumi, serta segala makhluk yang ada padanya. Ibrahim pun berkata, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Tuhan) Yang Menciptakan langit dan bumi sebagai orang cenderung kepada agama yang benar, dan tidaklah aku termasuk orang-orang musyrik.” (Q.S.Al-Anbiya’[21]:66)
Tak diragukan lagi bahwa Ibrahim berfikir tentang hipotesis yang membuat ia mendapat petunjuk. Ia juga mengumpulkan sejumlah pengamatan lainnya yang berkaitan dengan fenomena-fenomena alam, tetapi tak satupun yang menggugurkan hipotesis tersebut, bahkan ia mendapatkan bahwa semua keindahan ciptaan Allah Swt. Serta system terpadu yang ada di alam semesta itu menunjukkan keberadaan Tuhan Yang Mahakuat, Mahakuasa, dan Mahabijaksana. Dialah yang telah menciptakan alam semesta ini beserta segala makhluk yang ada padanya dalam sebuah system yang padu dan akurat.
Demikianlah, dari ayat-ayat yang menerangkan kisah Ibrahim A.S. mencapai ma’rifatullah itu,  kita dapat melihat cara Al-Qur’an menggambarkan secara akurat dan gamblang tentang langkah-langkah proses berfikir dalam memecahkan masalah. [Wallahu A’lam]

Sabtu, 16 Juli 2011

SESAL

 



Sesal adalah keadaan emosional yang timbul karena perasaan berdosa, kesedihan atas perbuatan dosa dan dilakukan, celaan kepada diri sendiri atas apa yang telah dikerjakan dan angan-angan seandainya tidak melakukan itu.

Celaan manusia kepada dirinya sendiri dan penyesalan atas apa yang telah diperbuatnya merupakan factor penting dalam pembentukan kepribadian manusia serta pendorong untuk menjauhi amal-amal buruk dan perbuatan dosa yang menimbulkan penyesalan kepada diri sendiri. Dalam kaitan inilah, Allah SWT bersumpah dengan an-nafsul lawwamah (jiwa yang amat mencela) sebagai penghargaan akan pentingnya hal itu dalam mengarahkan prilaku manusia untuk menjauhi segala kemaksiatan yang menjadi penyebab terjadinya kecaman dan penyesalan.
لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ (1) وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (2)
Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). QS. Al Qiyamah [75]: 1-2.

            An-nafsul lawwamah akan menghadapi apa yang kita sebut sebagai hati nurani dan apa yang oleh Freud dan para psikolog yang atheis disebut super ego atau ego ideal. Hati nurani merupakan bagian dari diri manusia yang menilai perbuatan-perbuatannya, yang mengecam kesalahan-kesalahannya, dan membuatnya merasa menyesal atas dosa yang telah diperbuat.

            Penyesalan pertama yang dirasakan manusia terjadi pada Adam dan Hawa saat berada di surga sebelum mereka turun ke bumi. Adam dan Hawa telah mendurhakai perintah Rabb mereka dan memakan sebagian dari pohon yang dilarang untuk mendekatinya. Kemudian, tampaklah aurat mereka. Mereka merasa menyesal seraya menghadapkan diri kepada Allah SWT. Guna memohon maghfirah dan ampunan.

وَيَا آَدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ (19) فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ (20) وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ (21) فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآَتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ (22) قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (23)

(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggalah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim”. Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua”, maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. QS. Al A’raf [7]:19-23.

Penyesalan kedua yang dirasakan manusia adalah ketika Qabil membunuh saudaranya Habil.
فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ (30) فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ (31)

Maka hawa nafsu Kabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. QS. Al- Maidah [5]: 30-31

Al-Qur’an menggambarkan penyesalan sebagai kaum kafirin yang terjadi pada hari kiamat karena mereka tidak beriman kepada Allah SWT. Dan tidak membenarkan Rasulallah SAW.

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28)

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). QS. Al-Furqan [25]: 27-28.
Wallah A’lam

Rabu, 22 Juni 2011

_Psikologi dalam Al-Qur’an_Pengaruh Motivasi dan Nilai Terhadap Perhatian dan Persepsi

Motivasi dan nilai-nilai individu akan mempengaruhi perhatian dan persepsinya. Ini terungkap dalam banyak hasil penelitian eksperimen moderen. Kenyataan ini pun telah ditunjukkan Al-Qur’an pada banyak tempat ketika menerangkan keimanan dapat membuat kaum mukminin siap dan penuh perhatian untuk menyimak Ayat-ayat Al-Qur’an yang akan diturunkan, lalu merekapun memahaminya dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang akurat.
Sebaliknya, ayat-ayat yang sama tidak memberikan pengaruh yang sama kepada orang-orang musyrik. Pendengaran, persepsi, dan pemahaman mereka dalam keadaan lalai. Berikut ini adalah beberapa contoh yang dikatakan Al-Qur’an dalam menggambarkan keadaan lalai yang disebabkan kemusyrikan dan ketidakberimanan kepada Allah. Hal inilah yang menjadikan indra orang-orang musyrik tidak bekerja melaksanakan fungsinya.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179)
Artinya:
“Dan sungguh Kami jadikan untuk (penghuni) neraka jahannam itu kebanyaakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami; mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat; dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Nereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” QS. Al-A’raf [7] : 179.

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آَذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ (44)
Artinya:
“....Katakanlah,’Ia merupakan petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman itu pada telinga mereka ada sumbatan, sedang ia merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka (seperti) diseru dari suatu tempat yang jauh’. QS. Fushshilat [41]:44

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ (23)

Artinya:
“Mereka itu adalah orang-orang yang dilaknati Allah, lalu Dia menjadikan mereka tuli dan membuat penglihatan mereka buta.” QS. Muhammad [47]:23

أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ أَوْ تَهْدِي الْعُمْيَ وَمَنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (40)

Artinya:
“Maka apakah kamu dapat memperdengarkan kepada orang-orang yang tuli, atau memberi petunjuk kepada orang yang buta (mata hatinya) dan kepada orang yang berada dalam kesesatan yang nyata?” QS. Az-Zukhruf [43]:40.

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ (17) صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ (18)
Artinya:
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api. Setelah api itu menerangi sekitarnya, Allah menghilangkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (Mereka itu) tuli, bisu, dan buta. Oleh karena itu, tidakkah mereka dapat kembali.” QS. Al-Baqarah [2]:17-18

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ (39)
Artinya:
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu, dan berada dalam kegelapan ...” QS Al-An’am [6]:39

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)
Artinya:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah telah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Dia telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup pada pengelihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka tidakkah kalian ingat?” QS. Al-Jatsiyah [45]:23

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ (80) وَمَا أَنْتَ بِهَادِي الْعُمْيِ عَنْ ضَلَالَتِهِمْ إِنْ تُسْمِعُ إِلَّا مَنْ يُؤْمِنُ بِآَيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ (81)
Artinya:
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat menjadikan orang-orang mati dapat mendengar dan tidak pula dapat menjadikan orang-orang tuli dapat mendengar penggilan, apabila merekaa telah berpaling membelakang. Dan tidaklah kamu dapat menunjukkan orang-orang buta dari kesesatan mereka. Tidaklah kamu dapat menjadikan (seorang pun) dapat mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.” QS. An-Naml [80-81]

Di antara fenomena pengaruh motivasi terhadap persepsi adalah penyimpangan atas hakikat sesuatu. Terkadang, manusia melihat sesuatu yang baik tampak buruk, dan terkadang pula melihat sesuatu yang buruk tampak baik. Al-Qur’an telah mengisyaratkan penyimpangan persepsi yang ditimbulkan oleh motivasi, kecenderungan dan hawa nafsu.
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا (8)
Artinya:
“Maka apakah orang-orang yang dijadikan (setan) memandang indah perbuatannya yang buruk....” QS Fathir [35]:8

أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ (14)
Artinya:
“Maka apakah orang yang berada pada bukti yang nyata dari Rabb-Nya sama dengan orang yang dijadikan memandang baik perbuatan buruknya, dan merekapun memperturutkan hawa nafsu mereka.” QS. Muhammad [47]:14

Beberapa penelitian psikoanalisis membultikan bahwa manusia cenderung enggan memahami sesuatu yang membuatnya resah dan gelisah serta hal-hal yang bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya.
Wallahu A’lam.

Jumat, 17 Juni 2011

ILUSI PENGLIHATAN



ILUSI PENGLIHATAN
Ilusi penglihatan ialah persepsi penglihatan yang keliru yang tidak sesuai dengan kenyataan sesuatu yang dilihat. Ada beberapa macam ilusi penglihatan yang umumnya terjadi pada semua orang dan semua orang dapat memperolehnya dengan jalan yang berbeda-beda. Contohnya antara lain peristiwa saat orang dahaga melihat fatamorgana dari kejauhan dan menyangka melihat air.

Debu dan Oase
450 × 593 - 47 k - jpg
mayasoeharto.blogspot.com



Al-Qur’an menyebutkan kata fatamorgana tatkala memberikan gambaran yang fasih perihal ketidakbergunaan perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan orang-orang kafir. Sebab, perbuatan-perbuatan baik mereka pada hari penghisaban akan menjadi debu yang berterbangan, baik fatamorgana yang dikira air oleh orang kehausan. Namun, setelah ia sampai, tak didapatinya apa-apa.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (39)

Artinya :
“Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah seperti fatamorgana disebuah dataran yang luas, yang disangka air oleh orang yang dahaga. Akan tetapi, ketika dia mendatanginya, dia tidak mendapatkan sesuatu apapun, dan dia mendapatkan [hukuman] Allah padanya, lalu Dia memberinya penghisaban dengan cukup. Dan Allah itu teramat cepat penghisaban-Nya”. QS. An-Nur [24]: 39.

Wallahu A'lam.

Selasa, 14 Juni 2011

PERSEPSI DI LUAR JANGKAUAN INDRA

PERSEPSI DI LUAR JANGKAUAN INDRA

Ada persepsi jenis lain yang tidak biasa. Persepsi ini oleh psikolog dinamakan persepsi di luar cakupan indra (extrasensory perception). Misalnya, telestesia, yaitu melihat sesuatu atau kejadian yang jauh di luar jangkauan indra penglihat, telepati, yaitu mengetahui kata hati atau pikiran seseorang yang juga biasanya berada di tempat yang jauh; istihtaf, yaitu mendengar seruan atau pembicaraan dari tempat jauh di luar jangkauan indra pendengar.
            Pada zaman moderen, beberapa psikolog tertarik untuk meneliti fenomena-fenomena tersebut. Mereka mengadakan banyak eksperimen tentang fenomena-fenomena tersebut. Hanya saja hasil yang mereka capai belum akurat dan ajeg untuk membantu kita memahami fenomena-fenomena tersebut dengan gamblang.
            Jenis persepsi di luar jangkauan indra ini tidak ada pada semua orang, tetapi hanya pada segelintir orang yang memiliki bakat khusus. Bakat khusus itu merupakan gambaran kejernihan spiritual yang dapat membantu mereka dengan kesadaran yang luar biasa. Hal ini membuat mereka dapat melampaui batas-batas tempat untuk mengetahui sesuatu atau kejadian yang jauh dari mereka atau terhalang oleh batas-batas tempat. Al-Qur’an mengemukakan sebuah contoh jenis persepsi yang luar biasa ini yang terjadi pada Nabi Ya’qub a.s. saat Nabi  Ya’qub a.s. mencium bau putranya, Nabi Yusuf a.s., ketika kafilah yang membawa baju Nabi Yusuf a.s. bergerak meninggalkan negeri Mesir, padahal jaraknya sejauh perjalanan beberapa hari dari tempat Nabi Ya’qub a.s. berada.
وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ (94)

Artinya:
“Dan tatkala kafilah itu telah keluar, berkatalah ayah mereka, ‘Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, andai kalian tidak menuduhku lemah akal’.
QS. Yusuf [12] :94.

            Kemampuan Nabi Ya’qub a.s. mencium bau Nabi Yusuf a.s. dari tempat jauh, yang hanya dapat ditempuh unta setelah perjalanan beberapa hari itu, secara jelas menunjukkan fenomena persepsi di luar jangkauan indra.
            Di antara mukjizat Nabi Isa a.s. yang diberitakan Al-Qur’an adalah dapat mengabari orang-orang perihal makanan yang mereka makan serta barang-barang yang mereka simpan di rumah.

             وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ (49)
            Artinya :
“…. Dan aku dapat memberitahu kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian ….” QS. Ali Imran [3] : 49.

Boleh jadi mukjizat tersebut merupakan jenis telestesia yang khusus diberikan Allah SWT. Kepada Nabi Isa a.s. dapat mengetahui sesuatu yang tak terlihat dan di luar jangkauan indra penglihat. Namun, boleh jadi hal tersebut merupakan ilham Ilahiah.
Dalam kitab As-Sunnatu wa Tarikhush Shahaabati wa Tashawuf terdapat beberapa contoh persepsi di luar jangkauan indra, yang oleh kalangan sufi dikenal dengan istilah kasyaf [ketersingkapan]. Imam  Muslim meriwayatkan bahwa Nabi . Muhammad Saw. Bersabda :
111 - (425) حدثني أبو غسان المسمعي. حدثنا معاذ (يعني ابن هشام) حدثني أبي. ح وحدثنا محمد بن المثنى. حدثنا ابن أبي عدي عن سعيد. كلاهما عن قتادة، عن أنس؛ أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال:
"أتموا الركوع والسجود. فوالله! إني لأراكم من بعد ظهري، إذا ما ركعتم وإذا ما سجدتم". وفي حديث سعيد "إذا ركعتم وإذا سجدتم".
Artinya:
“Sempurnakanlah ruku’ dan sujud! Sebab, demi Allah, dari balik punggungku, aku benar benar melihat kalian, ketika kalian ruku’ dan sujud.”

(Kitabush Shalat_Bab_Al-Amr bitahsiinish sholati wa itmaamuha wal khusyu’ fiha, No. Hadits: (425)-111. [Software Hadits] Mausuu’ah Al-hadiitsi An-Nabawi Asy-Syariif Ash-Shihhah was Sunan wal Masaaniid, Shahih Muslim, www.IslamSpirit.com).

Kemampuan Rasulullah SAW. Melihat para shahabat dari balik punggungnya saat mereka sedang ruku’ dan sujud juga merupakan telestesia. Sebaba dengan keheningan kalbu dan kejernihan spiritual, Nabi SAW. Mampu melihat sesuatu yang berada di luar jangkauan pengelihatannya.

Senin, 13 Juni 2011

INDRA PERASA

300 × 258 - 75 k - jpg
hamdala.wordpress.com
INDRA PERASA
Beberapa penelitian fisiologi moderen menerangkan bahwa pada kulit manusia terdapat sel-sel perasa yang banyak dan berbeda-beda bentuknya. Sel-sel tersebut khusus untuk menerima berbagai macam rasa tertentu. Sebagiannya merasakan panas, sebagian lain merasakan dingin, sebagian merasakan sentuhan dan tekanan, dan sebagiannya merasakan sakit. Al-Qur’an telah mengisyaratkan keberadaan anggota tubuh perasa yang khusus merasakan sakit pada kulit manusia. Hal ini tersebut pada firman Allah SWT :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا (56)
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan kami ganti kulit mereka dengan kulit lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” QS. An-Nisa’ [4] : 56

 
Kulit pada ujung jari dan dahi
72 × 72 - 3 k - jpg
kidsgen.blogspot.com
Ayat tersebut menunjukkan keberadaan sel-sel perasa yang khusus untuk merasakan sakit pada kulit, sebagaimana dijelaskan oleh beberapa penelitian moderen. Apabila kulit terbakar dan sel-sel tersebut hilang, hilanglah rasa pada kulit itu. Oleh karena itu Allah SWT.  Mengganti sel kulit orang-orang yang kafir itu dengan kulit yang baru pula agar rasa sakit mereka itu berkelanjutan.
Al-Qur’an juga mengisyaratkan indera peraba sebagai alat yang akan membantu manusia untuk merasakan dan mengenal  sesuatu.
وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ (7)
Artinya :
“Dan sekiranya Kami turunkan kepadamu kitab dalam kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka, niscaya berkatalah orang-orang yang kafir itu, “Tiada lain ini hanyalah sihir yang nyata.” QS. Al-An’am [6] : 7.

 
Sel Kulit Bisa Gantikan Sel
260 × 208 - 18 k - jpg
m.today.co.id
Wallahu A’lam