Selamat Datang

Assalamu'alaikum, wr wb.
Silahkan melihat, mempelajari atau mengunduh isi materi artikel dalam blog ini, juga sampaikan tabayyun demi kebaikan bersama, dan jangan lupa do'a buat pemilik blog ini. Semoga bermanfaat, Wassalam.

Rabu, 16 Mei 2012

METODE PEMBELAJARAN PAI KONVENSIONAL


METODE PEMBELAJARAN PAI KONVENSIONAL
(DEMONSTRASI, EKSPERIMEN, DAN RESITASI)
TEORI DAN APLIKASI

 

Oleh :

Wahyono Saputro (NIM. 2110103187)
Kurniawan            (NIM. 2110103173)



MODEL-MODEL PEMBELAJARAN PAI

Dosen Pengampu :

Dr. H. Ismail Sukardi, M. Ag.




MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2012 

PEMBAHASAN

A. METODE DEMONSTRASI (Demonstration Method)
a). Pengertian Metode Demonstrasi
Ada beberapa pengertian yang ditawarkan berkaitan dengan metode demonstrasi,  antara lain:
  1. Menurut Ismail SM yaitu suatu metode pembelajaran yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik.[1]
  2. Menurut Arief, yang dimaksud dengan metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana berjalannya suatu proses pembentukan tertentu kepada siswa.[2]
  3. Menurut Ramayulius, adalah sebuah metode yang digunakan untuk menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan suatu kerja fisik atau pengoperasian peralatan barang atau benda.[3]
  4. Menurut Muhibbin Syah seperti dikutip oleh Sukardi, metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.[4]

b). Landasan atau Prinsip Dasar Metode Demonstrasi
Landasan atau prinsip dasar metode demonstrasi ini banyak terdapat dalam hadits Nabi Muhammad SAW. yakni yang berkaitan dengan cara wudlu’, shalat, haji dan ibadah lainnya. Berikut di antara hadits-hadits yang dijadikan landasan untuk memperkuat metode demonstrasi ini:
1. Hadits tentang cara wudlu’ Nabi Muhammad SAW;
3 - (226) حدثني أبو الطاهر أحمد بن عمرو بن عبدالله بن عمرو بن سرح، وحرملة بن يحيى التجيبي. قالا: أخبرنا ابن وهب عن يونس، عن ابن شهاب؛ أن عطاء بن يزيد الليثي أخبره؛ أن حمران مولى عثمان أخبره؛ أن عثمان بن عفان رضي الله عنه دعا بوضوء. فتوضأ. فغسل كفيه ثلاث مرات. ثم مضمض واستنثر. ثم غسل وجهه ثلاث مرات. ثم غسل يده اليمنى إلى المرفق ثلاث مرات. ثم غسل يده اليسرى مثل ذلك. ثم مسح رأسه. ثم غسل رجله اليمنى إلى الكعبين ثلاث مرات. ثم غسل اليسرى مثل ذلك. ثم قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم توضأ نحو وضوئي هذا. ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "من توضأ نحو وضوئي هذا، ثم قام فركع ركعتين، لا يحدث فيهما نفسه، غفر له ما تقدم من ذنبه".

Artinya: Dari Humran (katanya) Usman bin Affan ra. : Bahwa Ia (Usman ra.) minta air lalu berwudu. Beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali lalu berkumur dan mengeluarkan air dari hidung. Kemudian membasuh wajahnya tiga kali, lantas membasuh tangan kanannya sampai siku tiga kali, tangan kirinya juga begitu. Setelah itu mengusap kepalanya, kemudian membasuh kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali, begitu juga kaki kirinya. Kemudian berkata: Aku pernah melihat Rasulullah saw. berwudu seperti wuduku ini, lalu beliau bersabda: Barang siapa yang berwudu seperti cara wuduku ini, lalu salat dua rakaat, di mana dalam dua rakaat itu ia tidak berbicara dengan hatinya sendiri, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni. (Shahih Muslim No.226).[5]
2. Hadits tentang cara shalat Nabi Muhammad SAW;
28 - (392) حدثنا محمد بن رافع. حدثنا عبدالرزاق. أخبرنا ابن جريج. أخبرني ابن شهاب عن أبي بكر بن عبدالرحمن؛ أنه سمع أبا هريرة يقول:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة يكبر حين يقوم. ثم يكبر حين يركع. ثم يقول "سمع الله لمن حمده" حين يرفع صلبه من الركوع. ثم يقول وهو قائم "ربنا ولك الحمد" ثم يكبر حين يهوي ساجدا. ثم يكبر حين يرفع رأسه. ويكبر حين يسجد. ثم يكبر حين يرفع رأسه. ثم يفعل مثل ذلك في الصلاة كلها حتى يقضيها. ويكبر حين يقوم من المثنى بعد الجلوس.
ثم يقول أبو هريرة: إني لأشبهكم صلاة برسول الله صلى الله عليه وسلم.

Artinya: ...Dari Abu Bakar bin Abdurrahman, bahwa ia telah mendengar Abu Hurairah ra. berkata: “Adalah Rasulullah SAW apabila berdiri hendak shalat Ia bertakbir ketika (mulai) berdiri. Kemudian bertakbir ketika rukuk, kemudian mengucap “Sami’allahu liman hamidah”, ketika mengangkat tulang sulbinya dari rukuk. Kemudian mengucapkan “Rabbana wa laka al hamd” dalam posisi berdirinya. Kemudian bertakbir ketika dalam keadaan sujud. Kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya. Kemudian bertakbir ketika sujud. Kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya. Kemudian Ia (Nabi SAW) melakukan hal yang serupa itu di dalam proses shalat secara keseluruhan hingga tuntas. Kemudian Ia (Nabi SAW)bertakbir ketika berdiri pada pada (rakaat) kedua setelah duduk.Kemudian Abu Hurairah ra. berkata: ”Sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip Rasulullah shalatnya daripada kalian”.[6]

3. Hadits tentang cara manasik haji Nabi Muhammad SAW;
230 - (1261) حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة. حدثنا عبدالله بن نمير. ح وحدثنا ابن نمير. حدثني أبي. حدثنا عبيدالله عن نافع، عن ابن عمر؛
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا طاف بالبيت الطواف الأول، خب ثلاثا ومشى أربعا. وكان يسعى ببطن المسيل إذا طاف بين الصفا والمروة. وكان ابن عمر يفعل ذلك.

Artinya: Dari Ibnu Umar ra. : “Bahwa Rasulullah saw. jika melakukan tawaf di Baitullah sebagai tawaf pertama dalam haji dan umrah, maka beliau berlari-lari kecil sebanyak tiga putaran dan berjalan biasa sebanyak empat putaran. Lalu beliau melakukan sai antara Shafa dan Marwah”.[7]

c). Prosedur atau Langkah- Langkah Penerapan Metode Demonstrasi
1.      Perencanaan yang terdiri atas;.
1)      Merumuskan tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang diharapkan dapat tercapai setelah metode demonstrasi selesai.
2)      Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan.
3)      Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan
4)      Selama demonstrasi berlangsung, seorang guru melakukan instropeksi diri apakah:
ü      Para siswa telah mendengarkan semua keterangannya,
ü   Semua media telah sesuai dengan tempat dan posisinya masing-masing sehingga para siswa telah melihatnya dengan jelas.
ü      Para siswa disarankan untuk membuat catatan yang dianggap penting
5)      Menetapkan rencana penilaian terhadap kemampuan anak didik[8]
2.      Pelaksanaan
1)      Melakukan cek ulang
2)      Memulai demonstrasi dengan menarik perhatian siswa
3)      Mengingat keadaan siswa, apakah semuanya mengikuti demonstrasi dengan baik
4)      Mengingat poin-poin materi
5)      Menstimulasi peran aktif siswa tentang apa yang dilihat, didengar, dengan cara mengajukan pertanyaan, membandingkannya dengan yang lain atau melakukannya sendiri
6)      Hindari ketegangan[9]
3.      Evaluasi
Sebagai follow up (lanjutan) setelah pelaksanaan demonstrasi sering diiringi dengan kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya. Kegiatan ini dapat berupa pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebihh lanjut, di rumah ataukah di sekolah. Evaluasi juga memperhatikan aspek perencanaan, pelaksanaan maupun follow up.[10]

d). Kelebihan dan Kekurangan Metode Demonstrasi
Kelebihan metode demonstrasi antara lain;[11]
ü      Memompa keaktifan siswa mengikuti proses pembelajaran
ü      Dapat membantu siswa untuk mengingat lebih lama tentang materi yang telah disampaikan
ü      Dapat memusatkan perhatian siswa
ü      Dapat mengurangi kesalahpahaman karena pengajaran menjadi lebih jelas dan konkret
ü      Memperluas pemahaman peserta didik
Kekurangan metode demonstrasi antara lain;[12]
ü      Menyita waktu
ü      Apabila terjadi kekurangan media, metode demonstrasi menjadi kurang efektif
ü      Memerlukan banyak tenaga
ü      Bila siswa tidak aktif maka metode demonstrasi juga menjadi tidak efektif.
Sedang menurut Ramayulius, kekurangan metode demonstrasi yaitu:[13]
ü      Membutuhkan kemampuan yang optimal para pendidik untuk itu perlu persiapan yang matang.
ü      Sulit dilaksanakan bila tidak ditunjang oleh waktu, tempat dan peralatan yang cukup.

B.  METODE EKSPERIMEN (Experimental Method)
a). Pengertian Metode Eksperimen
Ada beberapa pengertian yang diajukan di antaranya ialah;
1.      Menurut Ramayulius, metode eksperimen adalah apabila seseorang peserta didik melakukan sesuatu percobaan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap peserta didik.[14]
2.      Menurut Djamarah seperti dikutip Sukardi menegaskan bahwa metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Lanjutnya, metode percobaan adalah suatu metode mengajar yang menggunakan proses tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali.[15]
3.      Menurut Departemen Agama (sekarang Kemeneterian Agama) seperti dikutip Arief mendefinisikan metode eksperimen sebagai praktek pengajaran yang melibatkan anak didik pada pekerjaan anak didik pada pekerjaan akademis, latihan dan pemecahan masalah atau topik seperti shalat, puasa, haji, pembangunan masyarakat dan lain-lain.[16]

b). Landasan atau Prinsip Dasar Metode Eksperimen
Landasan atau prinsip dasar metode eksperimen salah satunya berdasarkan hadits berikut::
724 - حدثنا محمد بن بشار قال: حدثنا يحيى، عن عبيد الله قال: حدثني سعيد بن أبي سعيد، عن أبيه، عن أبي هريرة:أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل المسجد، فدخل رجل فصلى، فسلم على النبي صلى الله عليه وسلم فرد، وقال: (ارجع فصل، فإنك لم تصل). فرجع يصلي كما صلى، ثم جاء، فسلم على النبي صلى الله عليه وسلم، فقال: (ارجع فصل فإنك لم تصل). ثلاثا، فقال: والذي بعثك بالحق، ما أحسن غيره، فعلمني؟ فقال: (إذا قمت إلى الصلاة فكبر، ثم اقرأ ما تيسر معك من القراَن، ثم اركع حتى تطمئن راكعا، ثم ارفع حتى تعتدل قائما، ثم اسجد حتى تطمئن ساجدا، ثم ارفع حتى تطمئن جالسا، وافعل ذلك في صلاتك كلها).
Artinya: Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW masuk ke sebuah masjid, tiba-tiba masuklah seseorang ke dalam masjid lantas shalat. Kemudian ia menghadap Nabi SAW. seraya memberi salam. Setelah Nabi SAW menjawab salamnya lalu Ia berkata: Kembalilah dan shalatlah sekali lagi, karena engkau belum shalat. Kemudian laki-laki itu shalat lagi, setelah selesai ia datang pula menghadap Nabi SAW seraya memberi salam. Nabi SAW bersabda; kembalilah dan shalatlah sekali lagi, karena engkau belum shalat. (Hal itu sampai tiga kali).
Kemudian laki-laki itu berkata: “Demi Allah, saya tidak pandai mengerjakan shalat selain daripada itu, sebab itu ajarkanlah aku”. Nabi SAW berkata: “Apabila engkau berdiri hendak mengerjakan shalat, hendaklah takbir, kemudian bacalah apa yang mudah bagi engkau di antara Al Qur’an, setelah itu rukuklah hingga tenang dalam rukuk itu, kemudian bangkitlah hingga tegak lurus kembali kemudian sujudlah hingga tenang daam sujud itu, kemudian bangkitlah sehingga tenang dalam duduk, dan lakukanlah hal tersebut dalam semua shalatmu”.[17]

c). Prosedur atau Langkah- Langkah Penerapan Metode Eksperimen
Adapun langkah-langkah penerapan metode eksperimen adalah:
1.      Menerangkan tujuan eksperimen
2.      Membicarakan terlebih dahulu permasalahan yang signifikan untuk diangkat
3.      Sebelumnya guru harus menetapkan: alat yang diperlukan langkah-langkah apa yang harus ditempuh, hal apa yang harus dicatat, dan variabel-variabel apa yang harus dikontrol.
4.      Setelah eksperimen dilakukan guru harus: mengumpulkan laporan eksperimen, memproses kegiatan, dan melakukan tes untuk menguji pemahaman murid.[18]

d). Kelebihan dan Kekurangan Metode Eksperimen
Kelebihan metode eksperimen yaitu:.
ü     Menambah keaktifan untuk berbuat dan memecahkan sendiri sebuah permasalahan
ü     Dapat melaksanakan metode ilmiah dengan baik.
Kekurangan metode eksperimen yaitu:[19]
ü  Tidak semua mata pelajaran dapat menggunakan metode ini
ü  Murid yang kurang mempunyai daya intelektual yang kurang hanya memperoleh hasil yang minim.


C. METODE RESITASI (Recitation Method)
a). Pengertian Metode Resitasi
Resitasi adalah terjemahan dari bahasa Inggris “to cite” yang artinya mengutip, yaitu siswa mengutip atau mengambil sendiri bagian-bagian pelajaran itu dari buku-buku tertentu, lalu belajar sendiri dan berlatih hingga siap sebagaimana mestinya.[20]
Resitasi adalah penyajian kembali atau penimbulan kembali sesuatu yang sudah dimiliki, diketahui dan dipelajari. Metode ini populer dengan sebutan pekerjaan rumah (PR), sebetulnya bukan hanya pekerjaan rumah, tetapi dapat dikerjakan di sekolah, di halaman, di perpustakaan, laboraturium, mushalla, masjid, atau tempat-tempat lainnya.[21]
Dalam Pendidikan Agama Islam (PAI), mata pelajaran yang  sesuai diterapkan adalah yang bersifat praktis seperti menerjemahkan literatur bahasa asing, membuat kliping, paper resume dan lain-lain.[22]
Ada beberapa pengertian yang ditawarkan berkaitan dengan metode resitasi antara lain:
1.      Menurut Ismail SM, yang dimaksud metode resitasi adalah suatu cara dalam proses pembelajaran bilamana guru memberi tugas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada guru.[23]
2.      Menurut Ramayulius, yang dimaksud metode pemberian tugas dan resitasi ialah sutu cara mengajar di mana seorang guru memberikan tugas tertentu kepada peserta didik, sedangkan hasil tersebut diperiksa oleh guru dan peserta didik mempertanggung jawabkannya.[24]
3.      Menurut Sukardi, metode resitasi adalah suatu metode mengajar dimana siswa diharuskan membuat resume dengan kalimat sendiri.[25]
4.      Menurut Arief, metode resitasi adalah cara menyajikan bahan pelajaran dimana guru memberikan sejumlah tugas terhadap murid-muridnya untuk mempelajari sesuatu, kemudian mereka disuruh untuk mempertanggung jawabkannya. Tugas yang diberikan oleh guru bisa berbentuk memperbaiki, memperdalam, mengecek, mencari informasi atau menghafal pelajaran yang akhirnya membuat kesimpulan tertentu.[26]

b). Landasan atau Prinsip Dasar Metode Resitasi
Landasan atau prinsip dasar metode resitasi berdasarkan Al- Qur’an surah Al-Musatsir ayat 1-7 dan Al-Qiyamah ayat 17-18 berikut:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ﴿1﴾  قُمْ فَأَنْذِرْ﴿2﴾وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ﴿3﴾ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ﴿4﴾وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ﴿:5﴾

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ﴿6﴾وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

Artinya: “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah,dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (Q.S. Al-Mudatsir: 1-7)

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ﴿17﴾فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ﴿18﴾

Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu”. (Q.S. Al-Qiyamah: 17-18)

Menurut Ramayulius, tugas yang diemban oleh Nabi SAW. dalam surah Al-Mudatsir ayat 1-7, yaitu[27] :
1.      Taat beragama
2.      Giat dan rajin berdakwah
3.      Membesihkan diri, jiwa baik lahir dan batin
4.      Percaya kepada kemampuan sendiri
5.      Tabah dan ulet dalam melaksanakan tugas.

c). Prosedur atau Langkah- Langkah Penerapan Metode Resitasi
Yang perlu diperhatikan dalam langkah-langkah metode resitasi
1.      Merumuskan tujuan secara operasional/ spesifik tentang target yang akan dicapai
2.      Memperkirakan apakah tujuan itu dapat dicapai dalam batas-batas waktu tertentu
3.      Tenaga serta sarana yang tersedia
4.      Dapat mendorong siswa secara aktif dan kreatif untuk mempelajari dan mempraktekkan pelajaran yang telah diberikan, agar siswa mempunyai pengetahuan..[28]
Sementara pelaksanaan metode resitasi dilaksanakan dalam kegiatan belajar perorangan maupun kelompok. Adapun pelaksanaan yang ditempuh dalam metode ini antara lain:[29]
1.      Pendahuluan. Pada tahap ini perlu mempersiapkan mental murid untuk menerima tugas yang akan diberikan kepada mereka pada pelajaran inti, untuk itu perlu memberikan kejelasan tentang suatu bahan pelajaran yang dilaksanakan dengan metode ini.
2.      Pelajaran inti. Guru memberikan tugas, murid melaporkan hasil kerja mereka, sementara guru mengadakan koreksi terhadap tugas-tugas tersebut.
3.      Penutup. Pada langkah ini murid bersama guru mencek kebenaran sementara murid disuruh mengulangi tugas itu kembali.
d). Kelebihan dan Kekurangan Metode Resitasi[30]
Kelebihan metode resitasi adalah:
ü    Pengetahuan yang diperoleh murid baik dari hasil belajar, hasil eksperimen atau penyelidikan, banyak berhubungan dengan minat dan berguna untuk hidup mereka dan akan lebih lama diingat.
ü      Dapat dilaksanakan dalam berbagai bidang studi.
ü     Apabila tugas tersebut dalam bentuk kelompok maka murid dapat saling bekerjasama dan saling membantu.
ü   Murid berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian berkreatif, berinisiatif, bertanggung jawab dan mandiri.

 Sementara kelemahan metode resitasi adalah:
ü      Tugas rumah sering dikerjakan oleh orang lain, sehingga murid tidak tahu apa yang harus dikerjakan.
ü      Tugas yang sukar dapat mempengaruhi ketenangan mental murid.
ü      Sukar memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individual dan murid suka menyalin pekerjaan teman.

Dalam menggunakan metode resitasi terdapat tiga fase:
1. Fase pemberian tugas. Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan tujuan, jenis tugas, tugas sesuai dengan kemampuan murid, sediakan waktu yang cukup dan ada sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa
2.      Fase pelaksanaan tugas. Pada fase ini siswa diberikan bimbingan dan pengawasan oleh guru, dan diberikan dorongan sehingga anak mau berusaha, diusahakan dikerjakan oleh siswa tidak menyuruh orang lain.
3.      Fase pertanggung jawaban tugas. Hal yang harus dilakukan pada fase ini: laporan siswa, ada tanya jawab atau diskusi kelas, dan penilaian hasil tugas guru.





DAFTAR PUSTAKA

Abu Abdillah Muhammad Bin Isma’il Bin Ibrahim Bin Mughirah Al-Bukhari,   Al-Bukhari, Mausu’ah al-Hadiits al-Nabawiy al-Syariif al-Shihhah, wa al-Sunnah wa al- Masaaniid, www.islamspirit.com

Abu al-Husain Muslim Bin Hajjaj al-Qusyairi al-Niisaabury, Shahih Muslim, Mausu’ah al-Hadiits al-Nabawiy al-Syariif al-Shihhah, wa al-Sunnah wa al- Masaaniid, www.islamspirit.com

Arief, Armai, (2002). Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta, Ciputat Pers.

Fatimah, Siti, et al, (2009). Model-Model Pembelajaran SMP/SMA. Palembang, Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Rayon 4, Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang.

Hawi, Akmal, (2008). Kompetensi Guru PAI. Palembang, IAIN Raden Fatah Press.

Ibnu Isma’il Al Kahlany, Muhammad, (tt). Subul Al-Salam. (Terj. Oleh Abubakar Muhammad). Surabaya, Al-Ikhlas.

Ismail SM, (2008). Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM. Semarang, RaSAIL Media Group.

Muhammad Yusuf, Kadar, (2011). Tafsir Tarbawi. Pekanbaru, Zanafa Publishing.

Nizar, Samsul dan Hasibuan, Zainal Efendi, (2011). Hadits Tarbawi. Jakarta, Kalam Mulia.

Ramayulius, (2008). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta, Kalam Mulia.

-----------------, (2008). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta, Kalam Mulia.

Sukardi, Ismail, (2011). Model dan Metode Pembelajaran Modern: Suatu Pengantar. Palembang, Tunas Gemilang Press.

Suparlan et al, (2009). PAKEM: Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Bandung, Genesindo.



http://wahyono-saputro.blogspot.com/TAFSIR TARBAWI

 

LAMPIRAN 1
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran [RPP]
Pendidikan Agama Islam [PAI]
Melalui Metode Demonstrasi, Eksperimen dan Resitasi

RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN


Mata Pelajaran                        : Al-Qur’an Hadits
Kelas/ Semester                       : VIII MTs/ II
Alokasi waktu                          : 4 X 35 menit
Standar Kompetensi                :  Menerapkan  Al-Qur’an surah- surah pendek pilihan dalam kehidupan sehari-hari tentang menimbun harta (serakah)
Kompetensi Dasar :
Menerapkan kandungan Q.S. Al-Humazah dan At-Takatsur dalam fenomena kehidupan sehari- hari dan akibatnya.

Indikator :
ü       Memahami keterkaitan isi kandungan Q.S. Al-Humazah dan At-Takatsur tentang sifat cinta dunia dan melupakan kebahagiaan hakiki dalam fenomena kehidupan.
ü       Menerapkan kandungan Q.S. Al-Humazah dan At-Takatsur dalam fenomena kehidupan sehari- hari dan akibatnya.

I.        Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu menerapkan kandungan Q.S. Al-Humazah dan At-Takatsur dalam fenomena kehidupan sehari-hari dan akibatnya.

II.      Tujuan Perbaikan Pembelajaran:
Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa

III.    Materi Pokok/Pembelajaran:
Al-Qur’an surah pendek pilihan tentang menimbun harta (serakah)

IV.    Metode Pembelajaran
Metode demonstrasi

V.      Skenario Pembelajaran
A.     Kegiatan Awal
Ø       Guru mengucapkan salam
Ø       Guru mengkondisikan kelas
Ø       Guru dan siswa membaca doa sebelum belajar
Ø       Guru mengabsen siswa
Ø       Guru dan siswa melafalkan Q.S.At-Takatsur bersama-sama selama sepuluh menit.


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ  .حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ  .  كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ  .ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ  .كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ  .  لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ .  ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ .


1.       Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
2.       sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3.       janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4.       dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
5.       janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6.       niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7.       dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.
8.       kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Ø       Mengemukakan tujuan pembelajaran “menerapkan kandungan Q.S. Al-Humazah dan At-Takatsur.dalam fenomena kehidupan sehari- hari dan akibatnya”.
Ø       Peserta didik menyiapkan buku paket

B.      Kegiatan Inti
Ø       Guru membacakan materi pokok tentang “Al-Qur’an surah pendek pilihan tentang menimbun harta (serakah)”.
Ø       Guru menunjuk salah satu siswa maju ke depan kelas berperan sebagai guru untuk membaca dan menterjemahkan Q.S. At-Takatsur ayat perayat secara bergiliran di antara siswa hingga tuntas sampai akhir surah.
Ø       Siswa (secara acak) diminta menyimpulkan isi kandungan dari masing- masing surah di depan kelas.
Ø       Siswa menyalin Q.S. Al-Humazah dan At-Takatsur.
Ø       Guru menganjurkan agar siswa mempraktekkan bacaan Q.S. Al-Humazah dan At-Takatsur setiap kali salat.
Ø       Mengadakan tanya jawab tentang makna yang terkandung dalam Q.S. Al-Humazah dan At-Takatsur.

C.     Kegiatan Akhir
Ø       Memberitahukan pelajaran yang akan datang
Ø       Guru menutup, mengakhiri pelajaran dengan membaca hamdalah/ doa.


VI.                Media dan Sumber Belajar
Ø       Al-Qur’an
Ø       Buku teks Al-Qur’an Hadits kelas VIII MTs

VII.              Penilaian : Tes tulis danTes Lisan
Ø       Bentuk instrumen essay

VIII.            Evaluasi
Ø       Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1.       Apa balasan orang-orang yang selalu membangga-bangakan hartanya sampai lalai akan kewajibannya kelak di akhirat?
2.       Tulis dengan benar Al-Qur’an Surah At-Takatsur!
3.       Tulis terjemah Al-Qur’an Surah At-Takatsur ayat 1!
4.       Jelaskan dengan singkat makna ayat (1) Surah At-Takatsur!

                  Jumlah perolehan skor
 Skor=                                                          X100%      
                     Jumlah skor total

IX.                Kunci Jawaban
1.       Akan merasakan Siksa/ Azab Neraka Jahim
2.        
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ  .  حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ  .  كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ  .ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ  .  كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ  .لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ.ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ.  ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

3.   Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
4.   Ayat pertama surah At-Takatsur menjelaskan adanya peringatan Allah swt. kepada hamba-hamba-Nya yang lalai, lengah, dan telah berpaling daripada tujuan hidup yang sejati.



            Indralaya,
            Mengetahui                                                                
Kepala MTs Masdarul Ulum                                          Guru PAI/Mahasiswa



(Khairiyatul Fadhilah, S. Pd.I.)                                      ( Sukmawati S. Pd.I. )
Nip.                                                                              Nip.19550210 198303 2002







[1]Ismail SM, (2008). Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM. Semarang, RaSAIL Media Group. Hlm. 20.

[2]Armai Arief (2002). Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta, Ciputat Pers. Hlm. 190.

[3]Ramayulius, (2008). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta, Kalam Mulia. Hlm. 281. Kutipan yang sama juga terdapat dalam Samsul Nizar dan Zainal Efendi Hasibuan, (2011). Hadits Tarbawi. Jakarta, Kalam Mulia. Hlm. 69. Lihat juga Ramayulius, (2008). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta, Kalam Mulia. Hlm. 195, dalam bukunya tersebut Ramayulius menjelaskan pengertian metode demonstrasi yaitu suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukkan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikannya.

[4]Ismail Sukardi, (2011). Model dan Metode Pembelajaran Modern: Suatu Pengantar. Palembang, Tunas Gemilang Press. Hlm. 26.

[5] Abu al-Husain Muslim Bin Hajjaj al-Qusyairi al-Niisaabury, Shahih Muslim, Mausu’ah al-Hadiits al-Nabawiy al-Syariif al-Shihhah, wa al-Sunnah wa al- Masaaniid, www.islamspirit.com, Kitab Thaharah, bab (3) Sifat wudlu’ dan kesempurnaannya,
باب صفة الوضوء وكماله
hadits no. 226.
Lihat juga  Muhammad Ibnu Isma’il Al Kahlany, (tt). Subul Al-Salam. (Terj. Oleh Abubakar Muhammad). Surabaya, Al-Ikhlas. Hlm. 100.

[6] Abu al-Husain Muslim Bin Hajjaj al-Qusyairi al-Niisaabury, Shahih Muslim, Mausu’ah al-Hadiits al-Nabawiy al-Syariif al-Shihhah, wa al-Sunnah wa al- Masaaniid, www.islamspirit.com, Kitab Shalat, bab (10)
باب إثبات التكبير في كل خفض ورفع في الصلاة، إلا رفعه من الركوع فيقول فيه: سمع الله لمن حمده
hadits no. 392.

[7] Abu al-Husain Muslim Bin Hajjaj al-Qusyairi al-Niisaabury, Shahih Muslim, Mausu’ah al-Hadiits al-Nabawiy al-Syariif al-Shihhah, wa al-Sunnah wa al- Masaaniid, www.islamspirit.com, Kitab Haji, bab (39).
باب استحباب الرمل في الطواف العمرة، وفي الطواف الأول من الحج
Hadits no. 1261.
[8] Armai Arief (2002). Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta, Ciputat Pers. Hlm. 192-193.

[9] Armai Arief, Ibid. Hlm. 194

[10] Armai Arief, Ibid. Hlm. 194.

[11] Armai Arief, Ibid. Hlm. 191.Lihat juga Ramayulius, (2008). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta, Kalam Mulia.Hlm. 282.

[12] Armai Arief (2002). Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta, Ciputat Pers. Hlm. 192

[13] Ramayulius, (2008). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta, Kalam Mulia.Hlm. 282.

[14] Ramayulius, (2008). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Ibid. Hlm. 285. Di kesempatan lain, dengan redaksi sedikit berbeda ia mendefinisikan metode eksperimen adalah suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan sesuatu percobaan, dan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap murid, sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan(Ramayulius, (2008). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta, Kalam Mulia. Hlm. 195,). Kutipan serupa juga terdapat dalam Samsul Nizar dan Zainal Efendi Hasibuan, (2011). Hadits Tarbawi. Jakarta, Kalam Mulia. Hlm. 62.

[15] Ismail Sukardi, (2011). Model dan Metode Pembelajaran Modern: Suatu Pengantar. Palembang, Tunas Gemilang Press. Hlm. 28.

[16] Armai Arief (2002). Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta, Ciputat Pers. Hlm. 172.

[17]Abu Abdillah Muhammad Bin Isma’il Bin Ibrahim Bin Mughirah Al-Bukhari,   Al-Bukhari, Mausu’ah al-Hadiits al-Nabawiy al-Syariif al-Shihhah, wa al-Sunnah wa al- Masaaniid, www.islamspirit.com, Kitab Sifat Shalat, bab. (13)
باب: وجوب القراءة للإمام والمأموم في الصلوات كلها، في الحضر والسفر، وما يجهر فيها وما يخافت
hadits no. 724.

[18] Armai Arief (2002). Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta, Ciputat Pers. Hlm. 173 dan Ramayulius, (2008). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Ibid. Hlm. 286-287.

[19] Armai Arief (2002). Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta, Ciputat Pers. Hlm. 173 dan Ramayulius, (2008). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Ibid. Hlm. 287.

[20] Ibid. Hlm. 164.

[21] Ibid.

[22] Ibid.
[23] Ismail SM, (2008). Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM. Semarang, RaSAIL Media Group. Hlm. 21.

[24] Ramayulius, (2008). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta, Kalam Mulia. Hlm. 329.

[25] Ismail Sukardi, (2011). Model dan Metode Pembelajaran Modern: Suatu Pengantar. Palembang, Tunas Gemilang Press. Hlm. 27.

[26] Armai Arief (2002). Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta, Ciputat Pers. Hlm.164

[27] Ramayulius, (2008). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta, Kalam Mulia. Hlm. 330
[28] Armai Arief , Ibid. Hlm. 166

[29] Ibid. Hlm. 167.
[30] Ibid. Hlm. 166-167.

Minggu, 06 Mei 2012

TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) DALAM KONTEKS PENDIDIKAN


TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)
DALAM KONTEKS PENDIDIKAN



Oleh :

Wahyono Saputro
NIM. 2110103187


Tugas Mata Kuliah:
Total Quality Management

Dosen Pengampu :

Dr. H. Zainal Berlian, DBA.


MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2012  



BEBERAPA KESALAHAN KONSEPSI TENTANG TQM
Sebelum mendefinisikan elemen-elemen TQM dalam konteks pendidikan, mungkin ada manfaatnya untuk mengatakan beberapa hal berkaitan dengan hal-hal yang bukan termasuk TQM itu sendiri.
TQM bukanlah tentang bagaimana bekerja untuk agenda orang lain, tanpa menyertakan pelanggan dan klien anda yang memiliki agenda khusus. Ia bukan pula sesuatu yang hanya dilakukan oleh manajer senior dan kemudian membiarkan arahan mereka lalu begitu saja. Istilah total dalam aturan TQM mencatat bahwa apa saja dan siapa saja yang berada dalam sebuah organisasi adalah kompleksitas dalam sebuah kegiatan usaha perbaikan yang terus menerus. Istilah Manajemen dalam TQM juga sangat berarti bagi setiap orang, karena setiap orang dalam sebuah lembaga, apapun status mereka, posisi atau peran, adalah manajer bagi pertanggungjawaban mereka sendiri. Ini merupakan sebuah ide sulit untuk menguraikannya, dan ia merupakan sebuah alasan mengapa beberapa organisasi angkat bicara, seperti yang dilakukan oleh perusahaan Rolls-Royce, mengenai total quality.
Program-program TQM tidak harus menggunakan inisial TQM. Banyak organisasi mengejar sebuah filosofi di bawah merek dagang mereka sendiri. Tambahan (sebagai contoh), para ahli kimia menyebutnya program kualitas ekstensif ‘belanja jaminan’. American Express menggunakan inisial AEQL, yang berpihak kepada American Express Quality Leadership. Mereka lebih menyukai istilah leadership (kepemimpinan) dibandingkan istilah manajemen.[1]
Kontrol kualitas terpadu, pelayanan kualitas terpadu, perbaikan berkelanjutan, manajemen kualitas strategis, perbaikan yang tersistem, pengutamaan kualitas, inisiatif-inisiatif kualitas, kualitas pelayanan merupakan beberapa dari sekian banyak ungkapan yang biasa digunakan untuk menggambarkan apa yang disebut TQM dalam makalah ini. Jika sebuah sekolah sebagai contoh, telah merasakan bahwa sekolah tersebut menginginkan sebuah istilah ‘pengutamaan siswa’ atau ‘program perbaikan sekolah’ kemudian harus merasa bebas dalam melakukan hal tersebut. Itu tidaklah berarti bahwa hal tersebut sangat penting, akan tetapi dampak akibat bahwa program kualitas akan ada dalam budaya sekolah.[2] Siswa dan para orangtua mereka akan tertarik pada perubahan yang dibawa, bukan pada untuk apa inisiatif tersebut gunakan.[3]
TQM biasa digunakan untuk menggambarkan dua hal sedikit berbeda tetapi berkaitan dengan gagasan. Yang pertama, adalah sebuah filosofi perbaikan berkelanjutan. Yang kedua, berkaitan dengan maksud penggunaan TQM untuk menggambarkan alat serta teknis, seperti brainstorming[4] dan analisis terhadap bidang, yang mana biasa digunakan untuk menempatkan perbaikan kualitas ke dalam aksi. TQM berarti keduanya, yakni sebuah cara pandang dan seperangkat kegiatan-kegiatan praktis- sebuah sikap pola pikir sebaik seunggul metode pengenalan perbaikan berkelanjutan.[5]
Untuk menghindari salah persepsi tentang TQM, kita bisa membedakannya, seperti tabel berikut ini[6]:
Hal yang benar mengenai TQM
Hal yang keliru mengenai TQM
TQM bisa diterapkan untuk siapa saja (organisasi atau individu)
TQM tidak bisa diterapkan untuk kita.
TQM dikerjakan dengan baik sejak awal
TQM tidak selalu dikerjakan dengan baik dari awal.
TQM menekankan adanya perbaikan disetiap tahap manajemen
TQM tidak menyiapkan kesempatan untuk kesalahan.
TQM dikerjakan secara menyeluruh oleh seluruh staf yang ada di lembaga atau organisasi tersebut.
TQM hanya dikerjakan oleh manajer senior, bukan pegawai biasa.
Yang penting bukan nama (TQM) tetapi perubahan yang terjadi pada kultur sekolah.
Nama TQM tidak boleh diganti dengan nama lain.
TQM adalah pola pikir sekaligus aktivitas praktis.
TQM hanya konsep dan gagasan.
Mendeskripsikan alat dan teknis seperti brainstorming.
TQM tidak perlu menjelaskan teknis dan alat yang digunakan.



PERBAIKAN BERKELANJUTAN
TQM adalah sebuah hal yang bersifat praktis, akan tetapi ia juga pendekatan strategis untuk menjalankan sebuah organisasi yang berfokus pada kebutuhan pelanggan dan kliennya. TQM menolak hasil apapun kecuali jika produk tersebut bernilai lebih. TQM bukanlah seperangkat slogan, tetapi sebuah kesengajaan dan pendekatan sistematik  untuk  mencapai level kualitas yang pantas dalam sebuah tampilan yang konsisten yang sesuai target atau melampaui kebutuhan dan keinginan-keinginan para pelanggan. Hal tersebut dapat dianggap sebagai sebuah filosofi perbaikan berkelanjutan yang hanya bisa dicapai oleh dan melalui orang.[7]
Sebagai sebuah pendekatan, TQM mewakili sebuah pergeseran yang tetap dalam sebuah fokus kelembagaan yang menjauh dari perbaikan kualitas kemanfaatan jangka pendek kepada perbaikan kualitas kemanfaatan jangka panjang.       Inovasi yang tetap, perbaikan dan perubahan kesemuanya     sangat ditekankan, dan lembaga-lembaga tersebut yang mempraktekkannya ke dalam sebuah siklus perbaikan terus-menerus. Mereka membuat sebuah usaha secara sadar untuk menganalisa apa yang sedang mereka rencanakan dan perbuat untuk membuktikannya.[8] Untuk menciptakan sebuah budaya perbaikan yang berkelanjutan, para manajer harus mempercayai staf pegawai mereka dan mewakilkan keputusan-keputusan untuk level yang pantas, untuk memberikan staf pegawai rasa tanggung jawab menyampaikan gagasan kualitas di dalam bidang atau lingkungan mereka masing-masing.

PERUBAHAN BUDAYA
TQM memerlukan sebuah perubahan budaya.[9] Hal ini terkenal sangat sulit dihasilkan serta membutuhkan waktu dalam penerapannya. TQM memerlukan sebuah perubahan sikap dan metode kerja. Para staf perlu memahami dan menghidupkan pesan jika TQM ingin menciptakan pengaruh yang kuat. Bagaimanapun, budaya perubahan bukan hanya melulu perubahan tingkah laku keseharian.[10] TQM juga memerlukan sebuah perubahan dalam manajemen kelembagaan.[11]
Dua hal yang diperlukan buat staf pegawai untuk menghasilkan kualitas. Pertama, staf pegawai membutuhkan sebuah lingkungan yang nyaman dimana ia bekerja.[12] Mereka membutuhkan alat niaga dan mereka perlu bekerja dengan sistem dan prosedur yang kesemuanya sederhana serta yang membantu mereka dalam melaksanakan tugas mereka. Lingkungan yang melingkupi staf pegawai memiliki dampak besar dalam kemampuan mereka melaksanakan pekerjaan secara pantas dan efektif. Di antara  segi-segi lingkungan yang penting yaitu sistem-sistem dan prosedur-prosedur yang mana mereka bekerja dengannya. Meletakkan hal-hal yang patut dan prosedur-prosedur yang dapat dikerjakan dengan sendirinya tidak menghasilkan kualitas, akan tetapi kesemua prosedur-prosedur itu miskin atau kesalah arahan itu membuat produksi kualitas sulit secara ekstrim.
Kedua, untuk melakukan hal yang baik, staf pegawai memerlukan dorongan kuat dan pengakuan atas pencapaian dan kesuksesan mereka.[13] Mereka pantas memimpin orang yang menghargai pencapaian mereka dan melatih mereka untuk kesuksesan yang lebih hebat lagi. Pemotivasian untuk melakukan sebuah pekerjaan yang baik datang dari sebuah gaya kepemimpinan dan sebuah suasana yang meningkatkan self-esteem (penghargaan diri) dan pemberdayaan secara individu.

ORGANISASI UP-SIDE-DOWN
Kunci untuk sebuah kesuksesan budaya TQM adalah sebuah rantai antara pelanggan dan pemasok yang efektif baik secara internal maupun eksternal. Sekali konsep digenggam, ia akan memberikan implikasi yang sangat besar terhadap organisasi dan hubungan-hubungan di dalamnya. Sasaran pertama adalah pikiran tradisional status organisasi. Itu merupakan aturan pengelolaan tingkat menengah dan atas untuk mendukung serta memberdayakan organisasi TQM.[14]
Hal ini secara grafik dapat diilustrasikan oleh sebuah perbandingan skema tingkatan organisasi tradisional dengan rekan-rekan TQM nya. Keterbalikan secara hirarki diadaptasi dari ide Karl Albretcht. Hal itu mencari sebuah ilustrasi pergeseran paradima yang tersirat dalam TQM. Dalam dunia pendidikan, ia merupakan kebiasaan perangkat hubungan terhadap seseorang dengan sebuah fokus pelanggan yang jelas. Fokus struktur organisasi terbalik tidak berdampak pada stuktur keotoritasan dalam sebuah sekolah atau akademi dan tak akan mengurangi peran kepemimpinan yang esensi para manajer senior. Faktanya adalah kepemimpinan sangat penting terhadap kesuksesan TQM. Struktur terbalik menekankan hubungan pelayanan-pemberian dan nilai pentingnya pelanggan bagi sebuah lembaga.

TETAP DEKAT DENGAN PELANGGAN
Misi utama sebuah lembaga TQM ialah terpenuhinya kebutuhan dan keinginan pelanggan. Organisasi yang hebat, baik yang umum maupun khusus, menjaga kedekatan terhadap pelanggan, yang dalam ungkapan Peter dan Waterman (1982), memiliki sebuah obsesi terhadap kualitas. Mereka sadar bahwa pertumbuhan dan kelangsungan jangka panjang berasal dari kesesuaian pelayanan mereka terhadap kebutuhan pelanggan. Kualitas harus cocok dengan harapan dan permintaan pelanggan dan klien. Kualitas adalah apa yang diingini pelanggan dan bukan apa yang diputuskan lembaga adalah merupakan yang terbaik bagi mereka. Tanpa pelanggan tidak akan ada lembaga.[15]
Sebuah fokus pelanggan, bagaimanapun, tidak dengan sendirinya merupakan sebuah kondisi yang cukup untuk menjamin kualitas terpadu. Organisasi-organisasi TQM secara penuh perlu menyusun strategi untuk menyesuaikan permintaan pelanggan mereka. Pendidikan menghadapi sebuah tantangan yang perlu pertimbangan dalam hubungannya dengan pelanggan eksternalnya.[16] Banyak sekali para pelanggan seringkali mengenali secara tidak resmi mengenai dua hal yakni mengenai pelayanan dan apa yang terdapat kualitas di dalamnya. Sebagai tambahan, harapan diperlawankan dan seringkali bertentangan. Kualitas program istimewa seringkali membingungkan dalam pikiran awam dengan reputasi lembaga. Persepsi kualitas peserta didik  berubah seiring kemajuan melalui lembaga dan pengalaman mereka serta pertumbuhan yang meyakinkan.
Kesulitan selanjutnya bahwa, pelanggan dalam dunia pendidikan memainkan sebuah aturan penting dalam kualitas pembelajaran mereka sendiri. Pelanggan memiliki fungsi khusus dalam pembatasan kualitas apa yang mereka terima dari pendidikan.  Ada beberapa kesulitan dengan ide konsistensi dalam sebuah hubungan proses pembelajaran. Untuk mengatasi persoalan-persoalan ini perlu menjamin motivasi kedua pihak; peserta didik dan staf yang melayani mereka. Hal tersebut sangat penting untuk menjernihkan apa yang sedang ditawarkan dan apa yang diharapkan oleh peserta didik.


DAFTAR PUSTAKA
Brocka, Bruce and Brocka, M. Suzanne, 1992. Quality Management; Implementing The Best Ideas Of The Masters, United State of America, McGraw-Hill.

Harrington, H.J. (H. James) and Harrington, James S., 1995. Total Improvement Management: The Next Generation in Performance, United State of America, McGraw-Hill.

Muhaimin, et al, 2010. Manajemen Pendidikan: Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, Jakarta, Kencana Prenada Media Group.

Rohiat, 2010. Manajemen Sekolah: Teori Dasar dan Praktik, Bandung, Refika Aditama.

Rivai, Veithzal dan Murni, Sylviana, 2009. Education Management, Jakarta, Rajawali Pers.

Rivai, Veithzal dan Arifin, Arviyan, 2009. Islamic Leadership; Membangun SuperLeadership Melalui Kecerdasan Spiritual, Jakarta, Bumi Aksara.

Sagala, Syaiful, 2009. Memahami Organisasi Pendidikan, Bandung, Alfabeta.

Sallis, Edward, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format).

Umiarso dan Gojali, Imam, 2010. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan, Jogjakarta, IRCiSoD.







[1] Ketika banyak orang memikirkan tentang leadership, mereka sebetulnya sedang berfikir bahwa seseorang sedang melakukan sesuatu kepada orang lain. Kita menyebutnya sebagai ‘pengaruh’ dan seseorang pemimpin sebagai seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Seorang pemimpin klasik –seseorang yang dianggap orang lain sebagai pemimpin- sering digambarkan sebagai karismatik atau patriotik. Suatu konsep yang popular adalah gagasan tentang seorang pemimpin transformasional, seseorang mempunyai visi, dan daya tarik pribadi dinamis untuk membangkitkan perubahan organisasi secara menyeluruh. Leader adalah seorang yang mempunyai kekuatan, kekuasaan, atau karisma untuk memerintah orang lain. (Rivai, Veithzal dan Arifin, Arviyan, 2009. Islamic Leadership; Membangun SuperLeadership Melalui Kecerdasan Spiritual, Jakarta, Bumi Aksara). Hlm. 3

[2] Suksesnya adaptasi manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan menurut Hadari Nawawi dalam Umiarso (2010: 138 dan 139) ditandai beberapa indikator, di antaranya yaitu:              1). Tingkat konsistensi produk dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM terus meningkat, 2). Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan dan komplain masyarakat yang dilayani semakin berkurang, 3). Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat, 4). Inventarisasi aset oraganisasi semakin sempurna, terkendali dan tidak berkurang/hilang tanpa diketahui sebab-sebabnya, 5). Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah.

[3] Quality Management or Total Quality Management (TQM) is a way to continuously improve performance at every level of operation, in every functional area of an organization , using all available human and capital resources. Manajemen kualitas atau Manajemen Mutu Terpadu adalah sebuah cara untuk melakukan perbaikan kinerja secara terus-menerus pada setiap level tingkatan proses pelaksanaan dalam wilayah yang bersifat fungsional sebuah organisasi menggunakan semua sumber daya manusia dan sumber modal yang ada. (Bruce Brocka and M. Suzanne Brocka, 1992. Quality Management; Implementing The Best Ideas Of The Masters, United State of America, McGraw-Hill. hlm. 3) 
Bandingkan dengan definisi berikut: Quality in the context of total quality management or Total Quality Management (TQM) is not just an idea but philoshophy an methodology to help institutions to manage change in totally and sistematically, through changes in values, vision, mision and goals Kualitas dalam konteks Total Quality Management (TQM) bukan hanya sekedar ide semata, tetapi ia merupakan sebuah filosofi dan metodologi untuk membantu lembaga guna melakukan perubahan secara menyeluruh dan sistematis, yakni melalui perubahan nilai-nilai, visi, misi dan tujuan. http://bunda-smart.com/pendidikan/understanding-quality-of-education/, 07/04/2012_11:40.
Sementara dalam konteks pendidikan, Manajemen Mutu Terpadu merupakan konsep manajemen sekolah sebagai inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang diharapkan dapat memberikan perubahan yang lebih baik sesuai dengan perkembangan, tuntutan, dan dinamika masyarakat dalam menjawab permasalahan-permasalahan pengelolaan pendidikan pada tingkat sekolah. Komponen terkait untuk meningkatkan mutu tersebut ialah mutu sekolah, guru, siswa, kurikulum, dukungan dana, sarana dan prasarana, serta peran orangtua siswa. (Umiarso dan Imam Gojali, 2010. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan, Jogjakarta, IRCiSoD. Hlm. 115.

[4] Brainstorming merupakan teknik yang digunakan untuk menyimpulkan sejumlah pendapat dalam satu tim pada kerangka fikir yang sama. Brainstorming merupakan teknik yang sangat membantu dalam mencari solusi terhadap suatu masalah yang membutuhkan kreatifitas tinggi dalam penyelesaiannya. Dengan teknik ini akan dihasilkan berbagai kemungkinan proses solusi yang bisa dilakukan atau ide-ide yang dapat dievaluasi, diranking dan diprioritaskan untuk dilaksanakan. Teknik ini dapat digunakan untuk identifikasi masalah, mencari solusi terbaik atau mencari startegi implementasi yang terbaik. Brainstorming merupakan salah satu alat analisis dalam manajemen di samping benchmarking, diagram tulang ikan, five ‘hows’, five ‘why’, forcefield analysis, measurement chart, analisis Pareto dan problem solving techniques. (Muhaimin, et al, 2010. Manajemen Pendidikan: Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, Jakarta, Kencana Prenada Media Group). Hlm. 124.

[5] Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 25.

[6] Arman et al, 2009. Total Quality Management in Education (Resume Makalah), Jakarta, Program Pascasarjana S3 Manajemen Pendidikan Universitas Islam Nusantara. Hlm.1.
[7] Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 25

[8] Jangan memulai sebuah proses perbaikan untuk membuktikan kepuasan pelanggan atau etika moral pekerja. Hal tersebut akan dilakukan, akan tetapi alasan yang sungguh masuk akal adalah bahwa anda membutuhkan sebuah proses perbaikan adalah untuk meningkatkan kinerja perusahaan. (H. James. Harrington, Total Improvement Management: The Next Generation in Performance, United State of America, McGraw-Hill). Hlm. 9.
[9]Budaya (culture) dimaksud mulai dari pernyataan formal manajemen puncak di mana perilaku etis adalah norma dalam semua tindakan individu dalam organisasi. Melalui tindakan manajemen puncak perilaku etik bisa menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari dan keputusan bagi setiap orang dalam organisasi (Syaiful Sagala, 2009. Memahami Organisasi Pendidikan, Bandung, Alfabeta). Hlm. 198.

[10]Sasaran Perubahan Organisai mengarah pada perubahan sikap atau nilai-nilai, memodifikasi perilaku, dan menginduksi perubahan dalam struktur dan kebijakan. Praktisi pengembangan organisasi umumnya menerapkan strategi perubahan yang bersifat kolabiratif atau antar pribadi maupun kelompok kerja dan karenanya memusatkan perhatian pada variabel ‘manusia’ untuk membantu menggerakkan roda organisasi. (Syaiful Sagala, 2009. Ibid. Hlm. 198).

[11]Sebagaimana makhluk hidup, organisasi juga memiliki mekanisme untuk bertahan hidup lebih lama, jika mampu beradabtasi dengan lingkungannya. Itulah sebabnya setiap organisasi dituntut untuk memiliki kemampuan berubah sebelum organisasi tersebut mengalami kinerja atau mati. Lebih jauh, terdapat tiga waktu perubahan yang harus dipilih oleh organisasi untuk memperpanjang hidupnya. Pilihan terhadap ketiga waktu tersebut akan memiliki konsekuensi yang berbeda. Pilihan pertama, adalah pilihan yang paling baik, namun seringkali paling sulit untuk dilaksanakan, karena membutuhkan pemimpin yang memiliki sifat visioner. Perubahan dilakukan secara evolusioner pada saat organisasi sedang dalam masa kejayaan. Perubahan yang dilakukan pada saat ini disebut transformasi. Kedua, adalah waktu perubahan yang dipilih atau mungkin baru disadari ketika organisasi mulai mengalami penurunan kinerja. Perubahan yang dilakukan saat ini disebut turnaround. Organisasi sudah harus mengalami perubahan, jika tidak ingin penurunan kinerja organisasi akan terus berlangsung dan kemudian akan mengalami kematian. Pada saat ini, organisasi harus menjalankan disiplin yang tinggi untuk memastikan bahwa perubahan sudah pada arah yang benar. Ketiga, adalah perubahan yang dilakukan oleh organisasi, ketika organisasi tersebut telah mengalami kebangkrutan dan hampir mati (bangkrut). Perubahan yang dilakukan saat ini adalah perubahan yang paling berat. Perubahan yang dilakukan pada tahap ini sudah termasuk pada manajemen krisis. Pada saat ini, organisasi sudah diumpamakan memiliki penyakit yang sangat kronis. Produk dan layanan dari organisasi tersebut sudah tidak kompetitif lagi, sumber daya yang ada sudah kadluarsa, sarana dan prasarana sudah kusam dan tidak nyaman lagi digunakan, SDM sudah tidak memiliki semangat lagi untuk bekerja, dan iklim organisasi sudah tidak sehat. (Muhaimin, et al, 2010. Manajemen Pendidikan: Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, Jakarta, Kencana Prenada Media Group). Hlm. 67 dam 68.

[12]Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 26

[13] Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 27

[14] Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 27

[15] Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 28

[16] Dalam Manajemen Mutu Terpadu, sekolah difahami sebagai Unit Layanan Jasa, maka yang dilayani sekolah (pelanggan sekolah) adalah pelanggan internal (guru, pustakawan, laboran, teknisi dan tenaga administrasi), pelanggan eksternal yang terdiri atas pelanggan primer (siswa), pelanggan sekunder (orangtua, pemerintah dan masyarakat), dan pelanggan tersier (pemakai/ penerima lulusan, baik diperguruan tinggi maupun dunia usaha). Umiarso dan Imam Gojali, 2010. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan, Jogjakarta, IRCiSoD. Hlm. 136 dan 137.