Selamat Datang

Assalamu'alaikum, wr wb.
Silahkan melihat, mempelajari atau mengunduh isi materi artikel dalam blog ini, juga sampaikan tabayyun demi kebaikan bersama, dan jangan lupa do'a buat pemilik blog ini. Semoga bermanfaat, Wassalam.

Minggu, 06 Mei 2012

TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) DALAM KONTEKS PENDIDIKAN


TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)
DALAM KONTEKS PENDIDIKAN



Oleh :

Wahyono Saputro
NIM. 2110103187


Tugas Mata Kuliah:
Total Quality Management

Dosen Pengampu :

Dr. H. Zainal Berlian, DBA.


MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2012  



BEBERAPA KESALAHAN KONSEPSI TENTANG TQM
Sebelum mendefinisikan elemen-elemen TQM dalam konteks pendidikan, mungkin ada manfaatnya untuk mengatakan beberapa hal berkaitan dengan hal-hal yang bukan termasuk TQM itu sendiri.
TQM bukanlah tentang bagaimana bekerja untuk agenda orang lain, tanpa menyertakan pelanggan dan klien anda yang memiliki agenda khusus. Ia bukan pula sesuatu yang hanya dilakukan oleh manajer senior dan kemudian membiarkan arahan mereka lalu begitu saja. Istilah total dalam aturan TQM mencatat bahwa apa saja dan siapa saja yang berada dalam sebuah organisasi adalah kompleksitas dalam sebuah kegiatan usaha perbaikan yang terus menerus. Istilah Manajemen dalam TQM juga sangat berarti bagi setiap orang, karena setiap orang dalam sebuah lembaga, apapun status mereka, posisi atau peran, adalah manajer bagi pertanggungjawaban mereka sendiri. Ini merupakan sebuah ide sulit untuk menguraikannya, dan ia merupakan sebuah alasan mengapa beberapa organisasi angkat bicara, seperti yang dilakukan oleh perusahaan Rolls-Royce, mengenai total quality.
Program-program TQM tidak harus menggunakan inisial TQM. Banyak organisasi mengejar sebuah filosofi di bawah merek dagang mereka sendiri. Tambahan (sebagai contoh), para ahli kimia menyebutnya program kualitas ekstensif ‘belanja jaminan’. American Express menggunakan inisial AEQL, yang berpihak kepada American Express Quality Leadership. Mereka lebih menyukai istilah leadership (kepemimpinan) dibandingkan istilah manajemen.[1]
Kontrol kualitas terpadu, pelayanan kualitas terpadu, perbaikan berkelanjutan, manajemen kualitas strategis, perbaikan yang tersistem, pengutamaan kualitas, inisiatif-inisiatif kualitas, kualitas pelayanan merupakan beberapa dari sekian banyak ungkapan yang biasa digunakan untuk menggambarkan apa yang disebut TQM dalam makalah ini. Jika sebuah sekolah sebagai contoh, telah merasakan bahwa sekolah tersebut menginginkan sebuah istilah ‘pengutamaan siswa’ atau ‘program perbaikan sekolah’ kemudian harus merasa bebas dalam melakukan hal tersebut. Itu tidaklah berarti bahwa hal tersebut sangat penting, akan tetapi dampak akibat bahwa program kualitas akan ada dalam budaya sekolah.[2] Siswa dan para orangtua mereka akan tertarik pada perubahan yang dibawa, bukan pada untuk apa inisiatif tersebut gunakan.[3]
TQM biasa digunakan untuk menggambarkan dua hal sedikit berbeda tetapi berkaitan dengan gagasan. Yang pertama, adalah sebuah filosofi perbaikan berkelanjutan. Yang kedua, berkaitan dengan maksud penggunaan TQM untuk menggambarkan alat serta teknis, seperti brainstorming[4] dan analisis terhadap bidang, yang mana biasa digunakan untuk menempatkan perbaikan kualitas ke dalam aksi. TQM berarti keduanya, yakni sebuah cara pandang dan seperangkat kegiatan-kegiatan praktis- sebuah sikap pola pikir sebaik seunggul metode pengenalan perbaikan berkelanjutan.[5]
Untuk menghindari salah persepsi tentang TQM, kita bisa membedakannya, seperti tabel berikut ini[6]:
Hal yang benar mengenai TQM
Hal yang keliru mengenai TQM
TQM bisa diterapkan untuk siapa saja (organisasi atau individu)
TQM tidak bisa diterapkan untuk kita.
TQM dikerjakan dengan baik sejak awal
TQM tidak selalu dikerjakan dengan baik dari awal.
TQM menekankan adanya perbaikan disetiap tahap manajemen
TQM tidak menyiapkan kesempatan untuk kesalahan.
TQM dikerjakan secara menyeluruh oleh seluruh staf yang ada di lembaga atau organisasi tersebut.
TQM hanya dikerjakan oleh manajer senior, bukan pegawai biasa.
Yang penting bukan nama (TQM) tetapi perubahan yang terjadi pada kultur sekolah.
Nama TQM tidak boleh diganti dengan nama lain.
TQM adalah pola pikir sekaligus aktivitas praktis.
TQM hanya konsep dan gagasan.
Mendeskripsikan alat dan teknis seperti brainstorming.
TQM tidak perlu menjelaskan teknis dan alat yang digunakan.



PERBAIKAN BERKELANJUTAN
TQM adalah sebuah hal yang bersifat praktis, akan tetapi ia juga pendekatan strategis untuk menjalankan sebuah organisasi yang berfokus pada kebutuhan pelanggan dan kliennya. TQM menolak hasil apapun kecuali jika produk tersebut bernilai lebih. TQM bukanlah seperangkat slogan, tetapi sebuah kesengajaan dan pendekatan sistematik  untuk  mencapai level kualitas yang pantas dalam sebuah tampilan yang konsisten yang sesuai target atau melampaui kebutuhan dan keinginan-keinginan para pelanggan. Hal tersebut dapat dianggap sebagai sebuah filosofi perbaikan berkelanjutan yang hanya bisa dicapai oleh dan melalui orang.[7]
Sebagai sebuah pendekatan, TQM mewakili sebuah pergeseran yang tetap dalam sebuah fokus kelembagaan yang menjauh dari perbaikan kualitas kemanfaatan jangka pendek kepada perbaikan kualitas kemanfaatan jangka panjang.       Inovasi yang tetap, perbaikan dan perubahan kesemuanya     sangat ditekankan, dan lembaga-lembaga tersebut yang mempraktekkannya ke dalam sebuah siklus perbaikan terus-menerus. Mereka membuat sebuah usaha secara sadar untuk menganalisa apa yang sedang mereka rencanakan dan perbuat untuk membuktikannya.[8] Untuk menciptakan sebuah budaya perbaikan yang berkelanjutan, para manajer harus mempercayai staf pegawai mereka dan mewakilkan keputusan-keputusan untuk level yang pantas, untuk memberikan staf pegawai rasa tanggung jawab menyampaikan gagasan kualitas di dalam bidang atau lingkungan mereka masing-masing.

PERUBAHAN BUDAYA
TQM memerlukan sebuah perubahan budaya.[9] Hal ini terkenal sangat sulit dihasilkan serta membutuhkan waktu dalam penerapannya. TQM memerlukan sebuah perubahan sikap dan metode kerja. Para staf perlu memahami dan menghidupkan pesan jika TQM ingin menciptakan pengaruh yang kuat. Bagaimanapun, budaya perubahan bukan hanya melulu perubahan tingkah laku keseharian.[10] TQM juga memerlukan sebuah perubahan dalam manajemen kelembagaan.[11]
Dua hal yang diperlukan buat staf pegawai untuk menghasilkan kualitas. Pertama, staf pegawai membutuhkan sebuah lingkungan yang nyaman dimana ia bekerja.[12] Mereka membutuhkan alat niaga dan mereka perlu bekerja dengan sistem dan prosedur yang kesemuanya sederhana serta yang membantu mereka dalam melaksanakan tugas mereka. Lingkungan yang melingkupi staf pegawai memiliki dampak besar dalam kemampuan mereka melaksanakan pekerjaan secara pantas dan efektif. Di antara  segi-segi lingkungan yang penting yaitu sistem-sistem dan prosedur-prosedur yang mana mereka bekerja dengannya. Meletakkan hal-hal yang patut dan prosedur-prosedur yang dapat dikerjakan dengan sendirinya tidak menghasilkan kualitas, akan tetapi kesemua prosedur-prosedur itu miskin atau kesalah arahan itu membuat produksi kualitas sulit secara ekstrim.
Kedua, untuk melakukan hal yang baik, staf pegawai memerlukan dorongan kuat dan pengakuan atas pencapaian dan kesuksesan mereka.[13] Mereka pantas memimpin orang yang menghargai pencapaian mereka dan melatih mereka untuk kesuksesan yang lebih hebat lagi. Pemotivasian untuk melakukan sebuah pekerjaan yang baik datang dari sebuah gaya kepemimpinan dan sebuah suasana yang meningkatkan self-esteem (penghargaan diri) dan pemberdayaan secara individu.

ORGANISASI UP-SIDE-DOWN
Kunci untuk sebuah kesuksesan budaya TQM adalah sebuah rantai antara pelanggan dan pemasok yang efektif baik secara internal maupun eksternal. Sekali konsep digenggam, ia akan memberikan implikasi yang sangat besar terhadap organisasi dan hubungan-hubungan di dalamnya. Sasaran pertama adalah pikiran tradisional status organisasi. Itu merupakan aturan pengelolaan tingkat menengah dan atas untuk mendukung serta memberdayakan organisasi TQM.[14]
Hal ini secara grafik dapat diilustrasikan oleh sebuah perbandingan skema tingkatan organisasi tradisional dengan rekan-rekan TQM nya. Keterbalikan secara hirarki diadaptasi dari ide Karl Albretcht. Hal itu mencari sebuah ilustrasi pergeseran paradima yang tersirat dalam TQM. Dalam dunia pendidikan, ia merupakan kebiasaan perangkat hubungan terhadap seseorang dengan sebuah fokus pelanggan yang jelas. Fokus struktur organisasi terbalik tidak berdampak pada stuktur keotoritasan dalam sebuah sekolah atau akademi dan tak akan mengurangi peran kepemimpinan yang esensi para manajer senior. Faktanya adalah kepemimpinan sangat penting terhadap kesuksesan TQM. Struktur terbalik menekankan hubungan pelayanan-pemberian dan nilai pentingnya pelanggan bagi sebuah lembaga.

TETAP DEKAT DENGAN PELANGGAN
Misi utama sebuah lembaga TQM ialah terpenuhinya kebutuhan dan keinginan pelanggan. Organisasi yang hebat, baik yang umum maupun khusus, menjaga kedekatan terhadap pelanggan, yang dalam ungkapan Peter dan Waterman (1982), memiliki sebuah obsesi terhadap kualitas. Mereka sadar bahwa pertumbuhan dan kelangsungan jangka panjang berasal dari kesesuaian pelayanan mereka terhadap kebutuhan pelanggan. Kualitas harus cocok dengan harapan dan permintaan pelanggan dan klien. Kualitas adalah apa yang diingini pelanggan dan bukan apa yang diputuskan lembaga adalah merupakan yang terbaik bagi mereka. Tanpa pelanggan tidak akan ada lembaga.[15]
Sebuah fokus pelanggan, bagaimanapun, tidak dengan sendirinya merupakan sebuah kondisi yang cukup untuk menjamin kualitas terpadu. Organisasi-organisasi TQM secara penuh perlu menyusun strategi untuk menyesuaikan permintaan pelanggan mereka. Pendidikan menghadapi sebuah tantangan yang perlu pertimbangan dalam hubungannya dengan pelanggan eksternalnya.[16] Banyak sekali para pelanggan seringkali mengenali secara tidak resmi mengenai dua hal yakni mengenai pelayanan dan apa yang terdapat kualitas di dalamnya. Sebagai tambahan, harapan diperlawankan dan seringkali bertentangan. Kualitas program istimewa seringkali membingungkan dalam pikiran awam dengan reputasi lembaga. Persepsi kualitas peserta didik  berubah seiring kemajuan melalui lembaga dan pengalaman mereka serta pertumbuhan yang meyakinkan.
Kesulitan selanjutnya bahwa, pelanggan dalam dunia pendidikan memainkan sebuah aturan penting dalam kualitas pembelajaran mereka sendiri. Pelanggan memiliki fungsi khusus dalam pembatasan kualitas apa yang mereka terima dari pendidikan.  Ada beberapa kesulitan dengan ide konsistensi dalam sebuah hubungan proses pembelajaran. Untuk mengatasi persoalan-persoalan ini perlu menjamin motivasi kedua pihak; peserta didik dan staf yang melayani mereka. Hal tersebut sangat penting untuk menjernihkan apa yang sedang ditawarkan dan apa yang diharapkan oleh peserta didik.


DAFTAR PUSTAKA
Brocka, Bruce and Brocka, M. Suzanne, 1992. Quality Management; Implementing The Best Ideas Of The Masters, United State of America, McGraw-Hill.

Harrington, H.J. (H. James) and Harrington, James S., 1995. Total Improvement Management: The Next Generation in Performance, United State of America, McGraw-Hill.

Muhaimin, et al, 2010. Manajemen Pendidikan: Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, Jakarta, Kencana Prenada Media Group.

Rohiat, 2010. Manajemen Sekolah: Teori Dasar dan Praktik, Bandung, Refika Aditama.

Rivai, Veithzal dan Murni, Sylviana, 2009. Education Management, Jakarta, Rajawali Pers.

Rivai, Veithzal dan Arifin, Arviyan, 2009. Islamic Leadership; Membangun SuperLeadership Melalui Kecerdasan Spiritual, Jakarta, Bumi Aksara.

Sagala, Syaiful, 2009. Memahami Organisasi Pendidikan, Bandung, Alfabeta.

Sallis, Edward, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format).

Umiarso dan Gojali, Imam, 2010. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan, Jogjakarta, IRCiSoD.







[1] Ketika banyak orang memikirkan tentang leadership, mereka sebetulnya sedang berfikir bahwa seseorang sedang melakukan sesuatu kepada orang lain. Kita menyebutnya sebagai ‘pengaruh’ dan seseorang pemimpin sebagai seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Seorang pemimpin klasik –seseorang yang dianggap orang lain sebagai pemimpin- sering digambarkan sebagai karismatik atau patriotik. Suatu konsep yang popular adalah gagasan tentang seorang pemimpin transformasional, seseorang mempunyai visi, dan daya tarik pribadi dinamis untuk membangkitkan perubahan organisasi secara menyeluruh. Leader adalah seorang yang mempunyai kekuatan, kekuasaan, atau karisma untuk memerintah orang lain. (Rivai, Veithzal dan Arifin, Arviyan, 2009. Islamic Leadership; Membangun SuperLeadership Melalui Kecerdasan Spiritual, Jakarta, Bumi Aksara). Hlm. 3

[2] Suksesnya adaptasi manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan menurut Hadari Nawawi dalam Umiarso (2010: 138 dan 139) ditandai beberapa indikator, di antaranya yaitu:              1). Tingkat konsistensi produk dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM terus meningkat, 2). Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan dan komplain masyarakat yang dilayani semakin berkurang, 3). Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat, 4). Inventarisasi aset oraganisasi semakin sempurna, terkendali dan tidak berkurang/hilang tanpa diketahui sebab-sebabnya, 5). Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah.

[3] Quality Management or Total Quality Management (TQM) is a way to continuously improve performance at every level of operation, in every functional area of an organization , using all available human and capital resources. Manajemen kualitas atau Manajemen Mutu Terpadu adalah sebuah cara untuk melakukan perbaikan kinerja secara terus-menerus pada setiap level tingkatan proses pelaksanaan dalam wilayah yang bersifat fungsional sebuah organisasi menggunakan semua sumber daya manusia dan sumber modal yang ada. (Bruce Brocka and M. Suzanne Brocka, 1992. Quality Management; Implementing The Best Ideas Of The Masters, United State of America, McGraw-Hill. hlm. 3) 
Bandingkan dengan definisi berikut: Quality in the context of total quality management or Total Quality Management (TQM) is not just an idea but philoshophy an methodology to help institutions to manage change in totally and sistematically, through changes in values, vision, mision and goals Kualitas dalam konteks Total Quality Management (TQM) bukan hanya sekedar ide semata, tetapi ia merupakan sebuah filosofi dan metodologi untuk membantu lembaga guna melakukan perubahan secara menyeluruh dan sistematis, yakni melalui perubahan nilai-nilai, visi, misi dan tujuan. http://bunda-smart.com/pendidikan/understanding-quality-of-education/, 07/04/2012_11:40.
Sementara dalam konteks pendidikan, Manajemen Mutu Terpadu merupakan konsep manajemen sekolah sebagai inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang diharapkan dapat memberikan perubahan yang lebih baik sesuai dengan perkembangan, tuntutan, dan dinamika masyarakat dalam menjawab permasalahan-permasalahan pengelolaan pendidikan pada tingkat sekolah. Komponen terkait untuk meningkatkan mutu tersebut ialah mutu sekolah, guru, siswa, kurikulum, dukungan dana, sarana dan prasarana, serta peran orangtua siswa. (Umiarso dan Imam Gojali, 2010. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan, Jogjakarta, IRCiSoD. Hlm. 115.

[4] Brainstorming merupakan teknik yang digunakan untuk menyimpulkan sejumlah pendapat dalam satu tim pada kerangka fikir yang sama. Brainstorming merupakan teknik yang sangat membantu dalam mencari solusi terhadap suatu masalah yang membutuhkan kreatifitas tinggi dalam penyelesaiannya. Dengan teknik ini akan dihasilkan berbagai kemungkinan proses solusi yang bisa dilakukan atau ide-ide yang dapat dievaluasi, diranking dan diprioritaskan untuk dilaksanakan. Teknik ini dapat digunakan untuk identifikasi masalah, mencari solusi terbaik atau mencari startegi implementasi yang terbaik. Brainstorming merupakan salah satu alat analisis dalam manajemen di samping benchmarking, diagram tulang ikan, five ‘hows’, five ‘why’, forcefield analysis, measurement chart, analisis Pareto dan problem solving techniques. (Muhaimin, et al, 2010. Manajemen Pendidikan: Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, Jakarta, Kencana Prenada Media Group). Hlm. 124.

[5] Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 25.

[6] Arman et al, 2009. Total Quality Management in Education (Resume Makalah), Jakarta, Program Pascasarjana S3 Manajemen Pendidikan Universitas Islam Nusantara. Hlm.1.
[7] Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 25

[8] Jangan memulai sebuah proses perbaikan untuk membuktikan kepuasan pelanggan atau etika moral pekerja. Hal tersebut akan dilakukan, akan tetapi alasan yang sungguh masuk akal adalah bahwa anda membutuhkan sebuah proses perbaikan adalah untuk meningkatkan kinerja perusahaan. (H. James. Harrington, Total Improvement Management: The Next Generation in Performance, United State of America, McGraw-Hill). Hlm. 9.
[9]Budaya (culture) dimaksud mulai dari pernyataan formal manajemen puncak di mana perilaku etis adalah norma dalam semua tindakan individu dalam organisasi. Melalui tindakan manajemen puncak perilaku etik bisa menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari dan keputusan bagi setiap orang dalam organisasi (Syaiful Sagala, 2009. Memahami Organisasi Pendidikan, Bandung, Alfabeta). Hlm. 198.

[10]Sasaran Perubahan Organisai mengarah pada perubahan sikap atau nilai-nilai, memodifikasi perilaku, dan menginduksi perubahan dalam struktur dan kebijakan. Praktisi pengembangan organisasi umumnya menerapkan strategi perubahan yang bersifat kolabiratif atau antar pribadi maupun kelompok kerja dan karenanya memusatkan perhatian pada variabel ‘manusia’ untuk membantu menggerakkan roda organisasi. (Syaiful Sagala, 2009. Ibid. Hlm. 198).

[11]Sebagaimana makhluk hidup, organisasi juga memiliki mekanisme untuk bertahan hidup lebih lama, jika mampu beradabtasi dengan lingkungannya. Itulah sebabnya setiap organisasi dituntut untuk memiliki kemampuan berubah sebelum organisasi tersebut mengalami kinerja atau mati. Lebih jauh, terdapat tiga waktu perubahan yang harus dipilih oleh organisasi untuk memperpanjang hidupnya. Pilihan terhadap ketiga waktu tersebut akan memiliki konsekuensi yang berbeda. Pilihan pertama, adalah pilihan yang paling baik, namun seringkali paling sulit untuk dilaksanakan, karena membutuhkan pemimpin yang memiliki sifat visioner. Perubahan dilakukan secara evolusioner pada saat organisasi sedang dalam masa kejayaan. Perubahan yang dilakukan pada saat ini disebut transformasi. Kedua, adalah waktu perubahan yang dipilih atau mungkin baru disadari ketika organisasi mulai mengalami penurunan kinerja. Perubahan yang dilakukan saat ini disebut turnaround. Organisasi sudah harus mengalami perubahan, jika tidak ingin penurunan kinerja organisasi akan terus berlangsung dan kemudian akan mengalami kematian. Pada saat ini, organisasi harus menjalankan disiplin yang tinggi untuk memastikan bahwa perubahan sudah pada arah yang benar. Ketiga, adalah perubahan yang dilakukan oleh organisasi, ketika organisasi tersebut telah mengalami kebangkrutan dan hampir mati (bangkrut). Perubahan yang dilakukan saat ini adalah perubahan yang paling berat. Perubahan yang dilakukan pada tahap ini sudah termasuk pada manajemen krisis. Pada saat ini, organisasi sudah diumpamakan memiliki penyakit yang sangat kronis. Produk dan layanan dari organisasi tersebut sudah tidak kompetitif lagi, sumber daya yang ada sudah kadluarsa, sarana dan prasarana sudah kusam dan tidak nyaman lagi digunakan, SDM sudah tidak memiliki semangat lagi untuk bekerja, dan iklim organisasi sudah tidak sehat. (Muhaimin, et al, 2010. Manajemen Pendidikan: Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, Jakarta, Kencana Prenada Media Group). Hlm. 67 dam 68.

[12]Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 26

[13] Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 27

[14] Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 27

[15] Edward Sallis, 2002. Total Quality Management In Education, UK, Kogan Page Ltd. Third Edition (Adobe eReader Format). hlm. 28

[16] Dalam Manajemen Mutu Terpadu, sekolah difahami sebagai Unit Layanan Jasa, maka yang dilayani sekolah (pelanggan sekolah) adalah pelanggan internal (guru, pustakawan, laboran, teknisi dan tenaga administrasi), pelanggan eksternal yang terdiri atas pelanggan primer (siswa), pelanggan sekunder (orangtua, pemerintah dan masyarakat), dan pelanggan tersier (pemakai/ penerima lulusan, baik diperguruan tinggi maupun dunia usaha). Umiarso dan Imam Gojali, 2010. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan, Jogjakarta, IRCiSoD. Hlm. 136 dan 137.

Senin, 30 April 2012

Prinsip Belajar dalam Konsep Al-Qur'an



A.     Prinsip Belajar

Secara umum belajar dapat dikatakan sebagai aktivitas pencarian ilmu yang tentu saja berdasarkan konsep belajar di atas mesti berpengaruh terhadap si pelajar. Pengaruh itu meliputi cara pandang, pikiran dan perilakunya. Belajar sebagai suatu aktivitas dalam mencari ilmu mesti didasarkan atas prinsip-prinsip tertentu yang meliputi ketauhidan, keikhlasan, kebenaran dan tujuan yang jelas; prinsip yang terakhir ini berkait pula dengan tiga prinsip sebelumnya. Dan pengaruh yang diharapkan terjadi pada sipelajar tidak dapat dipisahkan dari keempat prinsip tersebut.
Tauhid merupakan dasar pertama dan utama, dimana kegiatan belajar mesti dibangun di atasnya. Banyak ayat Al-Qur’an yang menggambarkan hal tersebut. Perbincangan kitab suci ini tentang ilmu pengetahuan dan fenomena alam, sebagai objek yang dipelajari, mengarahkan manusia kepada tauhid. Atau dengan kata lain, belajar mesti berangkat dari ketauhidan dan juga berorientasi kepadanya. Dalam surah Al-Anbiya’ ayat 30 dan 31 ditegaskan:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ ﴿021:030﴾ وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ ﴿021:031﴾

Artinya: Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?
Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.

Ayat ini mengajak manusia mempelajari bumi, langit dan segala isinya. Hal itu tergambar dalam kata tanya (istifham) yang terdapat di awal ayat 30, yaitu awalam yara. Ada beberapa fenomena alam yang diperbincangkan dalam kedua ayat di atas. Pertama bumi dan langit dulunya merupakan satu kesatuan, kemudian Allah memisahkan keduanya maka terjadilah alam dan segala isinya. Kedua segala makhluk hidup berasal dari air. Ketiga di bumi terdapat gunung yang berfungsi mengokohkannya. Dan keempat di bumi juga terdapat jalan-jalan yang lapang.
Ayat pertama dimulai dengan pertanyaan apakah orang kafir tidak memperhatikan dan ayat kedua dimulai dengan pertanyaan, yaitu Allah menciptakan gunung-gunung. Pertanyaan itu memancing manusia agar belajar dengan cara melakukan penalaran terhadap fenomena alam, yang berorientasi kepada keimanan. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan, bahwa Dia lah menciptakan makhluk hidup dari air kemudian menjadikan bumi dan gunung di atasnya sebagai bahan memperkuat bumi tersebut agar tidak goyah. selain itu terdapat pula ungkapan la’allahum yahtaduun, yang secara harfiah dapat diartikan kepada harapan tetapi karena iini pernyataan Al-Qur’an ia berarti suatu kepastian (tahqiiq). Pertanyaan, pernyataan, dan atau harapan ini menggambarkan bahwa mempelajari fenomena alam mesti berangkat dari keimanan dan berorientasi memperkuat keimanan itu, dimana pada akhirnya pelajar yang mengkaji fenomena alam tersebut memperoleh petunjuk.
Penekanan Al-Qur’an mengenai prinsip keimanan dalam belajar, secara lebih tegas, dapat dilihat dalam ayat yang pertama turun, yaitu:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿096:001﴾

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.
Q.S. Al-‘Alaq:1                                                                                               

Ayat ini mengajarkan, bahwa membaca sebagai salah satu aktivitas belajar mesti berangkat dari nama Tuhan Yang telah menciptakan segala sesuatu. Dengan demikian, belajar mesti berangkat dari keimanan dan berorientasi untuk memperkuatnya. Penguasaan ilmu adalah sebagai model yang dapat menambah dan memperkokoh keimanan tersebut. Dan hasilnya adalah tunduk dan patuh kepada Sang Khalik.
Ketauhidan yang dijadikan prinsip utama dalam belajar lebih jauh menggambarkan keikhlasan dan tujuan pencarian ilmu. Ikhlas dan belajar berarti bersih dari tujuan dan kepentingan duniawi. Maka mendapatkan lapangan pekerjaan seharusnya tidak dijadikan sebagai tujuan utama dalam belajar. Ia mesti dipandang sebagai akibat penguasaan ilmu pengetahuan. Zarnuji menegaskan belajar tidak boleh diniatkan untuk mencari kemegahan duniawi dan popularitas. Tetapi belajar diniatkan atau dimaksudkan untuk mencari ridho Allah, menghilangkan kebodohan dari dirinya, dan atau menghidupkan api Islam. sebab agama tidak akan hidup tanpa ilmu[1]
Berdasarkan prinsip ini, maka dapat ditegaskan bahwa mempelajari segala macam ilmu merupakan usaha menguatkan aqidah tauhid; bertambahnya ilmu sebagai efek dari belajar maka bertambah pula keyakinan kepada Sang Maha Pencipta atau Pemberi ilmu itu. Al-Qur’an menegaskan:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ﴿003:190﴾
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿003:191﴾

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. Q.S. Ali ‘Imran (3):190-191

Produk yang ingin dilahirkan oleh pendidikan Islam adalah sosok intelektual yang berkepribadian, berdzikir, dan berfikir, sehingga dia menyadari dirinya dan alam lingkungannya sebagai suatu sistem yang menggambarkan fenomena kebesaran Tuhan. Untuk melahirkan produk seperti itu, maka belajar mesti dibangun atas prinsip iman dan akidah tauhid. (Wallahu A’lam)


[1] Ibrahim bin Isma’il  Al-Zarnuji. Ta’lim al-Muta’allim Tariiq al-Ta’allum, Semarang, Toha Putra, t.th., hlm. 10.

Minggu, 29 April 2012

TAFSIR TARBAWI

TAFSIR TARBAWI-Konsep Belajar dalam Al-Qur'an
 http://www.scribd.com/doc/91782378/TAFSIR-TARBAWI
Pembaca, terimakasih telah meluangkan waktu Anda mengunjungi blog ini. Bila Anda ingin mengunduh artikel pada tautan di atas, jangan lupa tinggalkan komentar Anda Terimakasih. :)

 
KONSEP BELAJAR DALAM AL-QUR’AN


A.     Konsep Belajar
Terdapat dua istilah yang digunakan Al-Qur’an yang berkonotasi belajar, yaitu ta’allama dan darasa. Ta’allama berasal dari kata ‘alima yang telah mendapat tambahan dua huruf (imbuhan), yaitu ta’ dan huruf yang sejenis dengan lam fi’ilnya yang dilambangkan dengan tasydid sehingga menjadi ta’allama. ‘Allama berarti mengetahui, dari kata ‘alima juga terbentuk kata al-‘ilmu (ilmu). Penambahan huruf pada suatu kata dasar, dalam kaedah Bahasa Arab, dapat merubah makna kata tersebut yang dinamakan dengan istilah fawa’id al-baab. Penambahan ta’ dan tasydid dalam kata ‘alima sehingga menjadi ta’allama juga membuat perubahan, yaitu mutawwa’ah; yang berarti adanya bekas suatu perbuatan. Maka ta’allama secara harfiah dapat diartikan kepada “menerima ilmu sebagai akibat dari suatu pengajaran”. Dengan demikian, ‘belajar’ sebagai terjemahan dari ta’allama dapat didefinisikan kepada perolehan ilmu sebagai akibat dari aktivitas pembelajaran. Atau dengan perkataan lain, belajar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dimana aktivitas itu membuatnya memperoleh ilmu.
Dalam Al- Qur’an kata ‘allama terulang dua kali. Keduanya digunakan dalam perbincangan tentang sihir, yaitu:
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ


Artinya: Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.        Q.S. Al-Baqarah (2): 102.

Berdasarkan pengertian ta’allama (belajar) di atas, maka ayat ini dapat diartikan kepada “bahwa orang Yahudi menerima ilmu sihir dari Harut dan Marut sebagai hasil pekerjaan keduanya. Dan ilmu yang mereka dapatkan itu tidak bermanfaat buat mereka, bahkan memberi madharat”. Mereka melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan bimbingan atau arahan guru sihir, dimana berdasarkan aktivitas dan mengikuti arahan itu memperoleh apa yang mereka cari.  Tetapi pada akhirnya pengetahuan yang telah mereka peroleh sesungguhnya tidak berguna bagi diri mereka sendiri, malahan dapat mencederai mereka.
Ungkapan Al-Qur’an “wa yata’allamuna ma yadlurruhum wa la yanfa’uhum” menggambarkan bahwa objek yang dipelajari mestilah sesuatu yang berguna atau bermanfaat bagi kehidupan manusia.  Sesuatu yang tidak berguna bahkan dapat mencederai manusia tidak pantas dipelajari. Oleh karena itu, Al-Qur’an melarang manusia mempelajari ilmu sihir, karena ilmu ini tidak dapat mendatangkan manfaat bahkan sebaliknya; ia dapat memadharatkan manusia. Maka ilmu yang pantas dipelajari adalah ilmu yang berdampak positif terhadap manusia, bahkan dalam menjalani kehidupan ataupun di balik kehidupan ini.
Kata darasa secara harfiah selalu diartikan kepada ‘mempelajari’, seperti yang terlihat dalam firman Allah:
وَكَذَلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Artinya: Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: "Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari ahli Kitab)", dan supaya Kami menjelaskan Al Quran itu kepada orang-orang yang mengetahui. Q.S. Al-An’Am (6) : 105.

Kata darasta dalam ayat ini berarti ‘kamu telah mempelajari’. Al-Isfahani secara harfiah memaknai kata darasa itu dengan ‘meninggalkan bekas’, seperti yang terlihat dalam makna ungkapan darasa al-daaru yang semakna dengan baqiya atsruha (rumah itu masih ada bekasnya). Maka ungkapan darastu al-‘ilma sama artinya dengan tanawaltu atsruhu bi al-hifdzi (saya menerima bekasnya dengan menghafal). Berangkat dari makna harfiah ini, maka belajar dapat didefinisikan kepada suatu kegiatan pencarian ilmu, dimana hasilnya berbekas dan berpengaruh terhadap orang yang mencarinya. Artinya, belajar tidak hanya sekedar aktivitas tetapi ia mesti mendatangkan pengaruh atau perubahan pada orang yang belajar tersebut.
Kata darasa dalam Al-Qur’an terulang 6 kali; lima dalam bentuk kata kerja dan yang lainnya dalam bentuk masdar. Lima yang dalam bentuk kata kerja itu, dua di antaranya menggunakan fi’il madli dan tiga lainnya menggunakan fi’il mudlari’. Kata tersebut terdapat dalam surah Al-An’am ayat 105, seperti yang telah dijelaskan di atas. Selain itu, kata darasa juga terdapat dalam beberapa surah dan ayat berikut, yaitu:

1. surah Al-A’raf (7): 169.
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الْأَدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ ۚ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ ۗ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Arinya: Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: "Kami akan diberi ampun". dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah Perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, Yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, Padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka Apakah kamu sekalian tidak mengerti? Q.S. Al-A’raf (7): 169.

Ayat ini memperbincangkan kejahatan umat terdahulu setelah wafatnya nabi yang diutus Allah kepada mereka. Umat-umat tersebut mewarisi kitab dari nabi, mereka mempelajarinya tapi tidak mengamalkan isinya, bahkan menfatwakan dan mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan isi al-kitab yang mereka pelajari itu, untuk mendapatkan kesenangan duniawi. Mereka berharap agar kesalahan yang mereka perbuat itu akan diampuni oleh Allah, tetapi lagi-lagi mereka terus-menerus melakukannya. Padahal meraih kebahagiaan akhirat, dengan cara mengamalkan pesan-pesan Tuhan yang terdapat dalam Al-Kitab itu lebih baik dan lebih menguntungkan mereka. Tetapi memang tidak semua ahlul kitab seperti itu. Ada juga mereka yang taat dan mengamalkan isi taurat yang telah mereka warisi tersebut, seperti yang tergambar dalam ayat sebelumnya (168) surat yang sama.
Dalam ayat ini terdapat kata darasuu maa fiihi yang dapat diartikan kepada “mereka telah mempelajari isi al-Kitab”. Maka maksudnya, orang-orang Ahlul Kitab telah mempelajari kitab Allah yang diturunkan kepada mereka, maka seharusnya kegiatan belajar itu berbekas dalam diri mereka, dengan mengimani dan mengamalkan pesan-pesan Tuhan yang termuat dalam Kitab tersebut, serta berpengaruh terhadap mereka dalam bentuk bertambahnya pengetahuan dan perubahan perilaku sehingga mereka mengakui kerasulan Muhammad saw. Tetapi justru yang sebaliknya; hal-hal yang dipelajari dari Al-Kitab tidak mendatangkan pengaruh apa-apa dan tidak berbekas dalam jiwa mereka. Ini menggambarkan belajar yang tidak efektif. Hal itu disebabkan oleh fanatisme dan tertutupnya jiwa menerima kebenaran atau ada kepentingan lain yang membuat mereka menolaknya. Dalam ayat tersebut digambarkan hal yang membuat tidak efektifnya kegiatan belajar mereka, yaitu “ya’khudzuuna al- adnaa (mereka mengambil harta benda dunia yang rendah ini). Artinya mereka memandang harta benda dunia lebih penting dari segalanya sehingga pesan-pesan ilahi yang mereka pelajari dalam al-Kitab tidak mendatangkan efek positif terhadap sikap dan jiwa mereka. Bahkan, mereka berani mengubah kitab suci yang mereka warisi itu untuk mendapatkan kedudukan dan kehormatan.
Berdasarkan perbincangan ayat di atas, maka dapat ditegaskan di sini bahwa hal-hal yang dapat menghalangi peserta didik menguasai pelajaran, baik secara kognitif, afektif maupun psikomotor. Faktor yang dapat menghalangi penguasaan tersebut meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berkaitan dengan hal-hal yang berada dalam diri peserta didik, seperti motivasi dan minatnya terhadap mata pelajaran yang dipelajari. Demikian pula tujuan belajar; apakah tujuannya benar-benar menimba ilmu atau ada tujuan lain, dimana belajar dijadikan sebagai ‘kambing hitam’, termasuk pula pergeseran pandangan terhadap belajar dari mencari ilmu berubah menjadi mencari ijazah atau gelar.
Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berada di luar diri peserta didik itu sendiri. Hal itu meliputi godaan atau rangsangan yang ada di lingkungan sekitar peserta didik, yaitu teman, masyarakat, media masa, dan keluarga. Banyak hal yang muncul di media masa, lingkungan keluarga, masyarakat, dan teman yang tidak mendukung bahkan menghambat kegiatan belajar atau menggoda siswa untuk tidak belajar sehingga materi pelajaran tidak dikuasai atau mereka mungkin saja sudah menguasai pengetahuanya, tetapi hal-hal tersebut menghambat mereka mengamalkannya. Maka itulah sebabnya, banyak orang yang sudah berilmu tetapi sikap dan perilakunya bertentangan dengan pengetahuannya itu.
Maka untuk efektifnya proses belajar, faktor-faktor tersebut mesti dihindari. Peserta didik harus fokus pada materi dan tujuan belajar. Mereka mesti membuka diri terhadap kebenaran atau objek yang dipelajari. Karena jika tidak demikian, maka jiwanya akan ditutupi oleh subjektifitas dan fanatismenya sehingga pada akhirnya membuat proses belajar tidak mencapai tujuan yang diharapkan. niat mereka perlu diluruskan, bahwa belajar benar-benar mencari ilmu untuk menguatkan akal agar mendapat hhidayah dari Allah, sehingga ilmu yang diperoleh berpengaruh positif terhadap perilaku.
Selain itu, lingkungan seperti teman serta lingkungan sekitar siswa lainnya mestilah dijaga agar benar-benar bersih dari hal-hal yang dapat menggagalkan pendidikan. Nabi Muhammad mengajarkan agar bersahabatlah dengan orang-orang baik, agar kebaikan yang ada padanya berpengaruh pula kepada sahabat.
2. surah Ali ‘Imran (3); 79 dan 80:
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[208], karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) Dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?".


Dalam ayat ini terdapat ungkapan kuunu rabbaniyyina bima kuntum tu’allimuuna al-Kitab wa bimaa kuntum tadrusuun (karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya). Penggalan ayat tersebut menggambarkan ajakan atau dakwah nabi terdahulu terhadap ummatnya agar mereka menjadi rabbani, yaitu orang-orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah swt. dimana kesempurnaan ilmu dan takwa itu merupakan efek dari pengajaran al-Kitab di satu sisi dan mempelajarinya di sisi lain. Ini artinya, belajar semestinya meninggalkan bekas pada diri atau jiwa peserta didik dalam bentuk kesempurnaan iman dan takwa.
Maka dengan demikian ditegaskan, bahwa ayat ini secara tidak langsung membicarakan dua hal yang berkaitan dengan belajar; pertama konsep belajar seperti terlihat dalam istilah ‘tadrusuuna’. Dan kedua tujuan belajar dan mengajar, yaitu “terbentuknya insan rabbani”. Para nabi telah mengajar umatnya  dan umat pun telah mempelajari pesan-pesan ilahi yang disampaikan para nabi tersebut. Maka umat diharapkan menjadi insan rabbani.
3. surah Al-Qalam (68); 34-38
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ ﴿068:034﴾ أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ ﴿068:035﴾
 مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ ﴿068:036﴾ أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ ﴿068:037﴾
إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ ﴿068:038﴾

Artinya: Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya. Maka Apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? atau Adakah kamu (berbuat demikian): Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? atau Adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya?, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu.


Ayat 36 dan 37 di atas diungkapkan dengan uslub (gaya bahasa) bertanya, yaitu ‘Adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” dan “Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu mempelajarinya?. Hal ini secara implisit menggambarkan bahwa perilaku merupakan efek dari apa yang dipelajari. Artinya, seolah-olah orang-orang kafir itu telah menerima al-Kitab lalu mereka mempelajari, dan hasilnya mereka dibolehkan memilih apa-apa yang mereka sukai. Kemudian mereka pun mengamalkan hal-hal yang mereka sukai itu, seperti yang terlihat pada sikap dan perilaku mereka. Padahal mereka belum mendapatkan al-Kitab. Sikap dan perilaku mereka hanyalah efek dari apa yang mereka pelajari dari nenek moyang mereka. Hal itu juga tergambar dalam ayat berikut.

4. surah Saba’(34); 43-44:
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَذَا إِلَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُكُمْ وَقَالُوا مَا هَذَا إِلَّا إِفْكٌ مُفْتَرًى ۚ وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ ﴿034:043﴾ وَمَا آتَيْنَاهُمْ مِنْ كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا ۖ وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَذِيرٍ﴿034:044﴾

Artinya: Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata: "Orang ini tiada lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin menghalangi kamu dari apa yang disembah oleh bapak-bapakmu", dan mereka berkata: "(Al Quran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja". dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata".
Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka Kitab-Kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun.


Orang kafir menolak ajaran yang disampaikan Rasul, mereka menganggapnya sebagai dongeng dan sihir. Mereka sangat fanatik dengan kepercayaan nenek moyang. Seakan-akan hal itu telah mereka pelajari dari al-Kitab atau dari rasul yang diutus kepada mereka. Padahal mereka tidak pernah diberi al-Kitab dan juga tidak pernah diutus seorang rasul, yang memberikan peringatan. Pernyataan ayat-ayat ini secara implisit meggambarkan begitu eratnya kaitan perilaku dengan belajar.
Berdasarkan konsep ta’allama dan darasa di atas, maka hakikat belajar itu adalah pencarian dan perolehan ilmu, di mana iaa mendatangkan pengaruh atau perubahan kepada sipelajar.
Ayat 105 surah al-An’am yang lalu juga menggambarkan bahwa untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal ia mesti diulang-ulang. Hal itu tergambar dalam penggalan ayat “wa kadzaalika nusharrifu al-aayaat” (demikianlah Kami mengulang-ulang ayat-ayat) supaya orang-orang yang beriman mendapat petunjuk. Allah mengajar manusia melalui kitab suci-Nya, pengajaran Allah itu selalu diulang-ulang. Pengulangan itu tidak hanya dilakukakan oleh guru, tetapi yang paling penting lagi dilakukan oleh peserta didik.
Perbincangan di atas menggambarkan beberapa konsep belajar dan bagaimana seharusnya efek dari belajar tersebut. Selain itu, dalam al-Qur’’an diterangkan pula bentuk aktifitas belajar, yaitu membaca (qara’a), dan memperhatikan (ra’a), menalar (nadzhara), mendengarkan (sami’a), dan mengingat atau menghafal (dzakara). Melakukan segala aktivitas belajar ini  dapat menghasilkan penguasaan terhadap pelajaran tersebut, baik penguasaan secara kognitif maupun afektif. Dalam istilah al-Qur’an disebut dengan tadzakkar yang berarti menjadi ingat atau menguasai materi ajar atau sadar sebagai makhluk Tuhan sebagai efek dari membaca, memperhatikan, menalar, mendengarkan, dan meghafal. Jadi, belajar mestinya mendatangkan efek kepada pelajar dalam bentuk kesadaran diri sebagai hamba Allah dan menyadari bahwa segala yang ada ini mempunyai penuh ketergantungan kepada Allah. Al-Qur’an menegaskan:
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
﴿007:057﴾

Artinya: Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Q.S. Al-A’raf (7): 57.

Secara umum ayat ini menegaskan, bahwa mempelajari fenomena alam yang meliputi proses turunnya hujan dan tumbuhannya sebagai dalil yang menunjukkan kepada kemahabesaran dan kekuasaan Allah, yang kemudian dianalogikan dengan kekuasaan-Nya yang lain yaitu membangkitkan manusia, dapat membentuk pribadi yang sadar akan kekuasaan-Nya itu (tadzakkar). Artinya, fenomena alam semestinya dapat dijadikan i’tibar oleh manusia dan mengantarkannya kepada keimanan yang kokoh dalam bentuk kesadaran diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dan kesadaran diri itu merupakan hasil yang ingin dicapai melalui mempelajari fenomena alam tersebut. (Wallahu A’lam)